Santri
mempunyai posisi urgen dimasyarakat. Posisi yang urgen ini tentunya dapat
menambah pandangan kita bahwa santri benar-benar dibutuhkan dimasyarakat. Selain itu, santri
juga menjadi sosok yang dianggap
mempunyai karakter baik. Bahkan akhir-akhir ini, baru rame-ramenya pruduksi film yang menggambarkan sosok santri. Semisal, film Negri 5 Menara
yang menjadi best seller saat ini. Dalam film tersebut, santri digambarkan
memiliki kebiasaan yang berkarakter. Selain itu santri dibekali
motivasi belajar yang sangat luar biasa lewat hadis Nabi “Man Jadda Wajada”.
Melihat itu, tentunya bisa kita ambil
sebuah konklusi bahwa santri memiliki karakter yang baik.
Namun,
perlu bagi kita untuk sejenak memandang lebih jauh kondisi sebagian santri yang menurut penulis kurang begitu
berkarakter. Ambil satu contoh, sekarang ini ada sebagian santri yang mondok
bertahun-tahun, yang tentunya memiliki
segudang ilmu. Ditambah lagi kalau nyantri di pondok yang terkenal top markotop. Tapi, yang
menjadi sorotan penulis, mereka itu begitu bangga dengan statusnya itu.
Kebanggaan inilah yang justru menjadikan lemahnya karakter seorang santri. Dan
terkadang, kebanggaan ini juga bisa menjadikan santri berpandangan wahid seperti bajak laut. Sehingga tidak menutup
kemungkinan, mudah bagi mereka untuk memvonis(baca; menyalahkan) orang lain.
Ya, memang. Mereka dipandang punya banyak ilmu. Tapi sikap dan perilaku santri
model seperti itu, seakan tidak memiliki sikap tasamuh seperti yang telah
diajarkan oleh kalangan Nahdliyin. Kita sebagai santri NU, pelajar NU, dan
warga NU tentunya bisa mengaktualkan sikap tasamuh ini ditengah-tengah
kehidupan kita. Menurut penulis, mereka terlalu teoritis dan tekstualis. Tidak
menutup kemungkinan, mereka sudah ter-kontaminasi oleh aliran-aliran yang
pandai membid’ahkan !!!
Mungkin, hal ini tidak terdeteksi
dipikiran kita. Juga bisa jadi, kita tidak mendeteksi itu. Atau mungkin kita
termasuk model santri seperti itu. Maka dari itu, sebagai santri, kita perlu
tashwir binafsih(memotret diri kita). Meski kita punya banyak ilmu, tidaklah
mulia ketika kita mudah untuk memvonis orang lain. Kita perlu berpikir dan
tabayun sebelum bertindak. Dan sebaiknya, kita yang punya banyak ilmu perlu
sekali mengaplikasikan ilmu itu secara kontekstualis. Sehingga, kita tidak
mudah serta merta menyalahkan orang lain tanpa dasar yang pasti.
So, sebagai santri, kita perlu
belajar banyak agar tidak mudah menyalahkan orang lain. Selain itu, kita juga
perlu berpikir “kritis kontekstualis” bukan “kritis tekstualis” agar tidak
terjerumus seperti model santri diatas. Dan yang tak kalah penting adalah kita
perlu banyak membaca.
Minggu,
18 Maret 2012
01.00
-02.00 WIB
Aula
Lantai 3 PP. Al-Ishlah