Orientasi keteladanan dalam Pendidikan


            Kita sering mendengar pepatah Jawa, dadiho wong kang bener lan pinter. Pinter yen ora bener, besok bakal keblinger. Maksudnya, jadilah orang yang soleh (baca:baik) dan berilmu. Kalau hanya berilmu saja tetapi tidak solih, suatu saat akan tersesat. Sesungguhnya pesan itu tidak hanya sekedar menyuruh untuk menjadi orang yang soleh secara vertikal. Misalnya melaksanakan sholat,  puasa dan ibadah lainya yang hubunganya dengan Tuhan. Tetapi pesan tersebut juga menekankan pada aspek humanistik. Dimana seseorang dituntut untuk menjadi insan yang mampu memberi konstribusi kepada masyarakatnya.

            Ruh moral dan afektif perlu dipancarkan pada diri pendidik. Jika tidak, maka akan terjadi berbagai degradasi moral yang berkepanjangan di negeri ini. Lihat saja, banyak akademisi bergelar tinggi melakukan tindakan yang seharusnya haram dilakukan. Mulai dari Rubi Rubiandini terjerat kasus migas,  Miranda Goeltom dalam kasus cek perjalanan kepada anggota DPR RI,  Nazaruddin Syamsuddin dalam kasus korupsi di KPU. Dan kasus terakhir, Musakkir seorang guru besar Universitas Hasanuddin Makassar tertangkap basah pesta sabu-sabu bersama seorang wanita—yang notabene masih berstatus mahasiswa.
            Tentu problematika diatas tidak bisa lepas dari efek globalisasi. Sebab globalisasi membawa dampak yang sangat luar biasa pada semua sektor. Termasuk pendidikan. Menurut Anthoni Giddens, globalisasi telah membawa manusia kepada knowledge based society, sehingga knowledge adalah patokan di semua lini kehidupan. Tidak berhenti pada itu saja, H.A.R Tilaar mengatakan bahwa pendidikan di negara berkembang seperti Indonesia yang notabene adalah negara jajahan, lebih berorientasi pada intelektualistis yang sesungguhnya merugikan bangsa tersebut. Tampaknya pernyataan ini sesuai dengan keadaan yang negara ini alami. Tidak sedikit skandal kasus yang sering kita lihat di media masa menyoroti tokoh-tokoh yang berlatarbelakang pendidikan tinggi. 

Orientasi keteladanan
            Dalam dunia pendidikan pesantren, sering dijumpai istilah Lisanul hal, afshahu min lisanil maqal. Maksudnya, pesan yang disampaikan melalui sikap lebih mudah untuk diterima, daripada lewat kata-kata. Dengan kata lain, pengaruh keteladan dan sikap seorang pendidik akan lebih mengena dan membekas kepada peserta didik, daripada ucapan (baca: bahasa lisan). Misalnya, ketika seorang guru bertemu muridnya ia selalu memancarkan senyuman. Kemudian murid mengikuti perilaku gurunya itu, secara tidak langsung guru menyampaikan pesan edukatif. Meskipun, guru tidak menyampaikan secara lisan kepada muridnya untuk tersenyum.
            Pendidikan yang berorientasi pada kesantunan akan membentuk peserta didik yang berkarakter dan dapat memberikan kontribusi terhadap masyarakat. Imam al-Ghazali pernah menyampaikan bahwa guru mengamalkan ilmunya, jangan perkataannya membohongi perbuatannya. Perumpamaan guru yang membimbing murid, bagaikan ukiran dan tanah liat atau bayangan dengan tongkat. Tidak mungkin tanah liat dapat terukir sendiri tanpa ada alat untuk mengukirnya, dan bagaimana mungkin bayangan akan lurus kalau tongkatnya bengkok. Oleh karena itu, keteladanan ini merupakan hal urgen yang harus dimiliki pendidik.
Hari Guru Nasional
            Saat menyambut hari guru, Anies Baswedan selaku Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah menghimbau kepada masyarakat untuk memuliakan guru. Anies berharap agar hari guru tak hanya sekedar berisi seremoni. Ia  mengajak untuk gerakan memuliakan guru, dengan cara mendatangi, menyalami dan mengucapkan terimakasih serta menanyakan kabarnya.
            Himbauan Anies ini senada dengan Syekh az-Zarnuji dalam kitabnya Ta’lim Muta’lim, salahsatu syarat agar belajar dengan sukses adalah dengan menghormati guru. Sebab menghormati guru sama seperti menghormati ilmu. Peserta didik tidak akan memperoleh ilmu dan mendapat manfaatnya tanpa menghormati ilmu dan gurunya.
            Kebijakan Anies tidak akan berhasil jika guru tidak memiliki keteladanan. Denganya, guru akan menjadi sosok yang digugu lan ditiru (dipatuhi dan diteladani). Dan secara psikologis, murid akan menghormati guru yang sikapnya baik, rendah hati dan tidak pernah menyakiti hati muridnya.
Bisa dibayangkan jika guru adalah sosok yang seram karena sering marah-marah di kelas, sering tidak masuk kelas, sering terlambat masuk, serta tidak pernah menyapa dan memberi senyuman kepada muridnya. Pasti murid tidak mau menghormati gurunya. Kalau gurunya saja tidak bisa menjadi teladan, mungkinkah murid mau menghormatinya ?
Tulisan pernah dimuat di:
1.      Koran Opini Indonesia
2.      EDUKASI Online (http://lpmedukasi.com/?p=1116 )
Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama