Proklamasi Kerinduanku

Aku ingin,

meniru sang pemuda
yang tak pernah hilang dan sirna cita-citanya

Aku ingin,
menghampiri dan bercengkerama denganya apasaja
yang membuatku tertawa tanpa sekat tanpa batas

Aku butuh penamu,
untuk kuukir dan rangkai indah peradaban gila ini
meski ukiran dan rangkaian itu akan sia-sia tanpa sisa

Aku butuh ajianmu,
untuk menebar kebaikan dan menghapus kedzaliman
makin heran dibuat bahan tertawaan

Aku hampa tanpamu,
rintih didih drama bikin sedih tanpa kasih
oleh pemimpinku tanpa malu melulu

Aku hampa tiadatara,
melihat muntah nanah dalam sajadah makin parah payah
oleh pemimipinku itu, ya pemimpinku itu, sekali lagi itu

Aku rindu padamu,
rindu, rindu, rindu dan rindu yang sulit aku hilangkan dari kepalaku
tapi aku malu tak dapat melanjutkan cita-citamu

Aku,
masih rindu padamu
‘isyq dalam bahasa agamaku, dalam rindu mendalam

Ini puisiku singkatku,
seperti engkau goreskan mesra dalam naskah proklamasi
meneduhkan dan menggetarkan

Engkau, kerinduanku
Engkau, harapanku
Engkau, selalu memberikan nada indah dalam langkah

Kasihku rahimahullahu ta’ala, Soekarno.

Kang Sabiq,
Semarang, 17 Agustus 2016 
Lebih baru Lebih lama