Dulu saat di pondok "sulit" sekali melihat santri putri. Bahkan saat itu, melihat sandalnya saja suenengnya bukan main. Karena ada ikatan batin dalam atap yang sama. Sekarang cukup nutul akun instagram tulis " #santriputrihitz" atau sejenisnya, kita bisa lihat aktifitas yg bergeser dari kemuru'ahnya santri putri.
Saya kira perlu bagi pengasuh untuk memberikan intruksi; agar mereka tidak aktif-terlalu di medsos. Atau mungkin berikan hukuman edukatif saja jika tidak ikut peraturan itu. Daripada citra pesantren buruk.
Wong dadi pengasuh pondok itu mentalnya mental baja. Karena sekecil apapun kesalahan santri yang ada hubunganya dengan masyarakat, pasti dielek-elek. Kiai yg punya pondok dimanapun pasti pernah digituin. Dari tingkat kota sampai nasional. Kalo ndak percaya tanyakan langsung ke gus-gus atau neng-neng itu, atau pengurus pondok. Ujian pengasuh ya gitu. Kalau kuat, pasti "ilmu tuwone" benar-benar merasuk sampai sumsung tulang.
Ya, intinya saya khawatir kalau yang tentang instagram tadi dimanipulasi secara digital oleh orang anti santri. Wong sekarang sudah mulai ada program mengstigma santri. Maka, program "sunnah dan wajib" dan "wadah dan isi" ini perlu direnungi-ditirakati oleh kiai & santri. kang_sabiq 26/10/2016