Tulisan ini sering saya share ke para teman atau saudara yang hendak menikah. Karena saya meyakini bahwa ini bagian dari dakwah kebaikan yang tentu pahalanya sangat luar biasa.
Saya akan menceritakan rahasia-rahasia khusus jelang pernikahan yang jarang
diketahui oleh banyak orang. Karena ilmu ini bisa didapat dengan rajin
silaturahmi seperti saya.
Tapi sebelum ke arah sana, saya mau bercerita tentang pengalaman pernikahan
saya.
Saya menikah umur 25 tahun, di usia yang menurut temen-temen kuliah di S2
UIN Walisongo sangat muda. Kalau tidak salah, saat itu saya menikah baru
semester 2 akhir.
Memang secara pribadi saya memiliki rencana menikah di umur 30 atau setelah
merampungkan S3 atau Doktor. Bagi saya, ini merupakan nilai plus sendiri dan
ada nilai sosial yang berbeda. Tentu juga biar “disetujui” oleh calon mertua. Heheehe
Ya sebenarnya alasan kuat lulus S3 baru nikah ini karena abah-umi sangat
luar biasa perjuanganya “nyekolahkan” ke dua anaknya.
Saya masih ingat betul, ketika hendak daftar sekolah, saya diajak abah ke
sebuah bidang tanah milik abah. “Tanah
iki meh tak dol kanggo nyekolahke awakmu karo mbakyumu ya biq... “ (Tanah
ini saya jual buat bayar sekolah kamu dan kakakmu ya biq).
Kisah lain, saat ingin membayar SPP bulanan abah umi tidak punya uang. Dan
saya diajak pinjam duit ke seseorang untuk membayar SPP saat itu. Dan mereka
melupakan rasa malu demi untuk menyekolahkan kedua anaknya.
Bagi saya birrul walidain (taat
pada orang tua) adalah sesuatu yang sakral. Suatu ketika, setelah pulang
mengerjakan tugas kuliah saya disindir sama abah “Sekolah terus. Ojo sampai
lali rabi. Aku nduwe konco ngoyak karir terus malah rak rabi-rabi. Saiki joko
tuwo” (sekolah terus. Nanti lupa nikah lho. aku dulu pernah punya teman yang
karena mengejar karir malah tidak nikah sampai sekarang)
Intinya, karena sudah disindir oleh abah, ya saya cari cara biar supaya
dapat jodoh. Gitu.
Dalam pencarian jodoh, saya rajin silaturahmi ke para kiai, senior
organisasi, dan para sahabat yang saya kenal. Intinya pertanyaanya ke
temen-temen hanya satu “Mas, ono referensi ndak ? aku meh nikah ki..”
Pesan dari Gus Yasin bin KH.
Maimun Zubair Saat Melaksanakan Akad Nikah
Salah satu ulama yang saya sowani adalah Gus Yasin. Putra dari ulama
kondang KH. Maemun Zubair Sarang Rembang.
Sebelum menjabat sebagai wakil gubernur Jawa Tengah 2018-2023, saya sempat
sowan langsung dengan beliau di rumah sementaranya di daerah Pom Bensin depan
Hotel Grasia. Seperti biasa, ketika sowan para ulama saya membawa buku karya
saya. Dan menurut beliau, karya saya bagus sekali.
Dalam rangka sowan sebelum nikah itu, saya mendapatkan banyak pelajaran
dari beliau khususnya persiapan sebelum menikah di hari H dan saat membina
rumah tangga.
Berikut beberapa nasihat Gus Yasin yang bersumber dari KH. Maemun Zubair :
Pertama, Nanti Saat Ijab Qabul Jenengan (red: laki-laki) harus
membayangkan dan yakin kanjeng nabi ikut hadir menyaksikan pernikahan jenengan. Karena
nabi muhammad seneng dengan umatnya yang menikah. Karena itu salah satu sunnah
beliau. Kalau pernikahan kita saja dihadiri Rasulullah, dijamin pernikahan itu membawa keberkahan.
Pesan beliau menurut saya memang benar adanya.Dengan menikah, persaudaraan
sesama muslim akan semakin dekat karena menikah tidak hanya menyatukan dua
orang. Tetapi juga menyatukan dua keluarga. Dan ini bagian dari dakwah Islam
yaitu, mempererat silaturahmi. Dan silaturahmi merupakan salah satu sunnah
beliau Rasulullah. Ketika kita mengikuti sunnah Rasulullah, maka hidup kita akan barokah di dunia dan akhirat.
Pesan yang disampaikan Gus Yasin tersebut menurut saya jarang tertulis di
buku-buku tentang nasihat pernikahan. Oleh karena hal penting ini perlu saya
sampaikan ke teman-teman yang hendak menikah.
Kedua, Ayat Al Qur’an tentang “Kaum Laki-Laki
itu Pemimpin bagi Kaum Wanita....” Namun dalam berumah tangga, berlaku
sebaliknya. Jadi dalam membina rumah tangga harus ada yang mengalah salah satu,
dan tetap sabar.”
Jadi itulah nasihat yang menurut saya banyak tidak diketahui banyak orang. Maka
saya posting di blog ini.
![]() |
| Bersama Gus Yasin di Suatu Pagi |
Semarang, 2018
M Sabiq Kamalul Haq

