“Calon
intelektual kok malas”. Demikian ucap salah satu Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah
dan Keguruan (FITK) saat menunggu mahasiswa yang terlambat dan dibukanya pintu
ruang N 6. Lontaran kata dosen berwajah tampan itu begitu jelas di telingaku,
karena kebetulan saya berada tepat di kanannya. Sembari membuka literatur yang
akan disampaikan, ia bergumam “Kalau memang kaum akademik, ya harus disiplin.”
Tiga menit kemudian pintu dibuka dan sang dosen menjalankan kewajibanya.
Sepintas
ucapan dosen itu sederhana. Tentu bagi mereka terbiasa mendengar itu. Tetapi
menurut saya itu sebuah sindiran tajam bagi kaum akademik yang malas. Coba kita
simak, kalimat “calon intelektual kok malas.” Ini artinya mahasiswa yang
notabenya sebagai seorang yang berilmu, berkarakter, berintelektual dan
berwawasan tinggi, enggan melakukan sebuah kewajiban. Sekali lagi, ini adalah
sindiran tajam bagi kaum akademik yang malas!
Malas
menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti tidak mau mengerjakan
sesuatu. Dalam bahasa arab disebut kaslaan.Kata malas sebenarnya terdiri dari
lafadz Maa dan Laasa. Yang dalam bahasa Arab Maa berarti tidak, dan laasa
memiliki arti merasakan. Kedua lafadz itu bila dirangkai, dapat berarti tidak
merasakan. So, seorang yang malas tidak akan merasakan betapa indahnya sebuah
kenikmatan, kesuksesan, keindahan dan lain sebagainya.
Edy
Zaqeus (2008) juga berpendapat, rasa malas merupakan keengganan seseorang untuk
melakukan sesuatu yang seharusnya atau sebaiknya dia lakukan. Masuk dalam
keluarga besar rasa malas adalah menolak tugas, tidak disiplin, tidak tekun,
rasa sungkan, suka menunda sesuatu, mengalihkan diri dari kewajiban, dll. Jadi
jelas mahasiswa tak boleh bersikap malas. Sebab akan menurunkan “derajat”
mahasiswa.
Sedangkan
mahasiswa menurut Knopfemacher (dalam Suwono, 1978) merupakan insan-insan calon
sarjana yang dalam keterlibatannya dengan perguruan tinggi dididik dan di
harapkan menjadi calon-calon intelektual. Pendapat Knopfemacher ini, kiranya
dapat menjadi penguat bahwa kita sebagai mahasiswa tidak boleh memiliki,
memelihara dan bersahabat dengan malas.
Sekali lagi insan akdemik akan kehilangan masa depanya dan gagal apabila selalu
bersekutu dengan malas.
Tak
disadari
Tak
disadari malas telah membingkai dan bersahabat dengan kehidupan kita. Mari
sejenak kita melihat fenomena di sekeliling kita. Misal tidak membuang sampah
di tempatnya, terlambat mengembalikan buku di perpustakaan, tidak mengerjakan
tugas dari dosen, sampai tidak menyiram bekas air kencingnya sendiri!
Masih
banyak lagi problem yang disebabkan oleh sikap malas. Misalnya, malas untuk
mencari informasi akademik. Lihat saja, jumlah mahasiswa yang gagal untuk
melaksanakan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) karena terlambat mendaftar via
online dan terlambat mengumpulkan berkas verifikasi. Berdasarkan informasi dari
laman labpendidikan.net milik Laboratorium Pendidikan FITK, pendaftaran PPL
Online dibuka pada 10 -17 Desember 2013. Tetapi sampai tanggal 18 Desember 2013
masih ada mahasiswa yang registrasi, dengan alasan tidak tahu informasinya.
Problem
lain terjadi saat input mata kuliah diawal semester, dimana masih banyak
mahasiswa yang tidak tahu password untuk login di Sistem Informasi Akademik
(SIA) Walisongo. Padahal, pasword untuk login sesuai Nomor Induk Mahasiswa
(NIM). Ya, tentu ini juga karena malas untuk mencari informasi. Serta seabrek
problem lainnya yang pasti disebabkan oleh sikap malas.
Malas=
“miskin”
Malas
sama halnya dengan miskin. Artinya, seorang yang bermalas-malas akan jatuh
miskin karena takut menghadapi masa depan. Bahkan berdasarkan hasil penelitian
yang dilakukan oleh ilmuwan dari University of Missouri di Amerika Serikat
menemukan bahwa malas secara fisik dapat menyebabkan kematian. Malas dapat
disebabkan oleh berbagai faktor diantaranya; yang pertama adalah faktor
eksternal. Ini dapat berupa lingkungan yang berada dengan orang-orang yang
malas ataupun suasana lingkungan yang membuat kita merasa malas.
Kedua
adalah faktor internal. Dapat diakibatkan karena perasaan yang tidak menentu
ataupun luapan emosi yang tak terkendali, keadaan fisik yang lemah (disebabkan
kurang berolahraga dan kurang nutrisi) serta kurang motivasi dalam diri
sendiri. Meski sudah lekat dengan kita, malas harus dihindari. Sebab malas
adalah penghambat kesuksesan.
Banyak
tips agar kita tidak bersikap malas. Seperti harus memiliki niatan untuk
bersemangat saat melakukan aktivitas. Rasulullah pernah memberikan support
kepada umatnya untuk tidak bersikap malas dan harus bersemangat menjalankan
aktifitas. Seperti hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Nabi Muhammad SAW
bersabda: احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ
بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ (Semangatlah untuk meraih
apa yang bermanfaat bagimu dan mohonlah pertolongan kepada Allah serta
janganlah kamu lemah).
Selain
semangat saat melakukan sesuatu, kiranya perlu pembiasaan disiplin agar
mahasiswa tidak terjerumus pada sikap malas. Menurut Dollard & Miller,
psikolog asal AS, perilaku manusia terbentuk karena faktor kebiasaan. Jika
seseorang terbiasa bersikap rajin dan bersemangat maka ia akan selalu rajin dan
bersemangat, begitu juga sebaliknya. Sehingga jika Anda tergolong pemalas,
jalan untuk merubahnya adalah dengan membiasakan diri untuk melawan sikap
malas. Sekali lagi, sikap ini dapat menghancurkan masa depan kaum akademik.
kang sabiq