Penanaman sikap nasionalisme dirasa penting untuk dimiliki
kader NU. Mereka tidak hanya mengabdi
kepada agama saja. Tetapi kepada bangsa dan tanah air. Hans Kohn mendefinisikan
nasionalisme sebagai; “keadaan pada individu yang dalam pikirannya merasa bahwa
pengabdian paling tinggi adalah untuk bangsa dan tanah air”. Pernyataan Hans dapat diartikan bahwa sikap
dan mental untuk mengabdi kepada negara harus dimiliki oleh setiap rakyat
Indonesia. Khususnya kader NU.
Melihat pentingnya penanaman sikap dan mental
nasionalisme, Sabtu (27/9) Pengurus
Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama’ (IPPNU) Kota Semarang mengadakan
Sarasehan Kebangsaan dengan tema; Semangat Nasionalisme Pemuda dalam Menghadapi
Globalisasi.
Agenda akbar tersebut dihadiri oleh PAC, PR, Komisariat IPNU-IPPNU Se Kota
Semarang. Kegiatan ini bertempat di Pondok Pesantren Al Asror Gunungpati
Semarang. Pada sarasehan ini, panitia mengundang M. Rikza Chamami M.Si sebagai
narasumber utama.
Iin, selaku ketua
IPPNU mengatakan, nasionalisme itu harus dimiliki kader NU. Karena sikap nasionalisme itu akan
mengantarkan kader NU yang militan terhadap agama dan bangsa.
Ia menambahkan, jika kader NU tidak memiliki sikap
nasionalisme. Pasti sedikit-demi sedikit negara Indonesia akan runtuh
peradabanya. Melihat pentingnya nasionalisme, maka kita dari Pengurus Cabang
IPPNU Kota Semarang mengadakan kegiatan ini.
“Mari kita bersama-sama tanamkan sikap nasionalisme. Karena kita adalah pemuda. Dan
ditangan pemudalah sebuah bangsa akan maju,” ujar Iin mahasiswa dari Unisula
Semarang.
Rikza, sebagai narasumber sarasehan itu menyampaikan, agar
memiliki sikap nasionalisme, kader NU harus harus memiliki wawasan pengetahuan
yang lebih. Dengan wawasan pengetahuan yang luas, kita akan bisa memahami
kebhinekaan. Sebab di Indonesia itu ada
agama, budaya, dan bahasa yang berbeda-beda. Kalau kita tidak memiliki
pengetahuan yang luas, maka kita akan bisa memahami indahnya kebhinekaan di
negara berlambang merah putih. Dan ketidakpahaman terhadap kebhinekaan, pasti
nasionalisme kita tidak akan terbangun sikap dan mental nasionalism.
Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan IAIN Walisongo itu
menambahkan, kader NU harus menjadi generasi yang selalu belajar, berjuang dan
bertaqwa. “Jangan jadi kader yang lembek, tidak tahan banting dan tak percaya diri,’’, pungkas dosen
berpenampilan menarik itu. (Kang_Sabiq)@kang_sabiq