Pilkada dan Jebakan Mental Popularitas

Pilkada serentak akan dilaksanakan pada akhir tahun ini. Tentu, setiap daerah memiliki harapan sendiri untuk calon pemimpin daerahnya. Dan masyarakat pasti menginginkan agar pemimpin daerahanya adalah sosok yang revolusioner.


Selama ini warga semarang masih banyak yang beranggapan, jika orang Jakarta punya Ahok, Surabaya punya Risma, Bandung memiliki Emil (Ridwan Kamil). Ketiganya  adalah kepala daerah yang fenomenal   dan populer. Kemudian pertanyaanya, bagaimana dengan Semarang ?  Semarang punya siapa ?


Hendrar Prihadi yang biasa dipanggil Hendi, pernah meraih Satya Lencana Karya Bhakti dari Presiden. Penghargaan ini diberikan karena kinerjanya terbaik dalam Evaluasi Kinerja Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (EKPPD) terhadap Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (LPPD) 2012. Dan sebenarnya masih banyak lagi prestasi Hendi yang tidak diketahui masyarakat Semarang. Tetapi prestasi tersebut  belum bisa mendongkrak popularitas Hendi.

Sejenak perlu menelisik sedikit sejarah tentang kepemimpinan. Banyak sekali pemimpin yang pada mulainya dianggap sebagai sosok yang visioner. Namun dalam perjalanan kebijakannya, mereka tidak mampu menjaga dan mempertahankan keutuhan daerahnya. Ambil satu contoh Josef Broz Tito. Ia adalah pemimpin di Yugoslavia. Tetapi, kehebatanya tak mampu menjaga dan mempertahankan keutuhan daerahnya. Akhirnya, Yugoslavia sirna.

Begitu juga Jokowi. Masyarakat Indonesia yakin bahwa ia akan menjadi pemimpin yang dapat membawa perubahan dan angin segar bagi kesejahteraan rakyat. Ide-idenya cemerlang. Pribadinya memiliki kekhasan tersendiri. Blusukanya membawa kecintaan masyarakat. Tetapi dalam perjalananya, ia banyak menerima problem yang bersifat politis. Sehingga kadang, ide-ide cemerlangnya sirna tinggal nama. Tetapi, patut seiring berkembangnya waktu, Jokowi mampu mengembalikan kepercayaan publik. Dan ini wajib kita yakini bersama, karena presiden adalah symbol dari Negara.

Jebakan popularitas
Hendrar Prihadi atau Hendi sapaan akrabnya, memiliki kemampuan yang sama dengan Walikota lain. Hanya saja, tidak begitu populer. Apakah Hendi harus popular ? Apakah Hendi harus marah-marah agar populer ? saya selalu berdo’a agar Hendi dan Walikota Semarang yang akan datang tidak marah-marah. Tetapi ramah. Marah-marah bukan indikator kesuksesan memimpin daerah.
Tiga sosok diatas tersebut tidak sepenuhnya sosok yang fenomenal. Kata Fenomenal dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti luar biasa, hebat, dapat disaksikan dengan pancaindra. Artinya, bukan tipu-tipuan, atau sekedar berdiri dalam panggung sandiwara. Bahkan, bukan mereka yang ingin mengeruk keuntungan via sandiwara.
Sosok yang fenomenal (baca; hebat dalam memimpin daerah) adalah mereka yang mengabdikan dirinya secara istiqomah kepada rakyat, dan membuat rakyat bangga, aman, nyaman dan sejahtera hidupnya, dan ini harus dibuktikan secara empiris. Bukan secara apriori.  Namanyapun akan menjadi cerita tutur setelah ia tidak memegang jabatan.

            Kita hidup dalam genggaman media sosial. Isu hebat apapun akan hilang diterkam tweet dan berita baru dalam trending topic. Seperti halnya ketiga tokoh tersebut, akan hilang dari ingatan orang saat ada tumpukan trending topic. Dan, pada hakikatnya rakyat tidak begitu butuh Walikota yang populer. Apalagi hanya buat bangga-banggaan. Sungguh lucu.

            Kemudian yang perlu kita pahami, terkadang ada sebagian yang menjadi sosok fenomenal kemudian populer (dikenal banyak orang). Ada  yang populer, baru dianggap fenomenal. Ada yang benar-benar fenomenal kemudian populer. Ada yang tidak fenomenal tetapi populer. Dan ada yang tidak fenomenal dan populer.

Tetapi yang tidak boleh terjadi, adalah sosok tidak fenomenal tetapi populer. Ini dapat merugikan masyarakat. Tipe itu adalah model pemimpin pemberi harapan palsu (PHP) sehingga terkesan menciderai kesetian masyarakat. Atau anak muda akan mengatakan, “disitu saya merasa sedih” dan “sakitnya tuh disini”.  Dan ini harus secara berjama’ah tidak dijadikan pemimpin.

Lalu bagaimana untuk calon Walikota Semarang kedepan ? Semarang butuh sosok yang fenomenal dan populer. Sefenomenal apapun calon Walikota Semarang, tetapi tidak populer maka tidak akan sempurna kepemimpinanya.
Semua agenda Walikota harus dipublikasikan agar warga Semarang dapat mengetahui sampai mana progress program kerja Walikota. Dalam publikasi ini perlu dilakukakan secara istiqaamah. Sebab jika hanya sekali, mudah sekali hilang dari ingatan masyarakat. Ya, seperti yang kita ketahui bahwa sekarang jamanya teknologi. Berita baru akan digilas berita baru lagi, dan seterusnya.

Kemudian penting sekali memiliki kemampuan, latarbelakang dan apresiasi dalam bidang pendidikan dan kebudayaan, ekonomi dan politik. Sebab, diakui atau tidak, Semarang yang statusnya sebagai Ibu Kota, memiliki seabrek permasalah yang pada dasarnya kembali kepada pendidikan, kebudayaan dan ekonomi.

Sosok yang “mboten korupsi lan mboten ngapusi” juga tidak kalah penting. Jangan sampai, Semarang memiliki pemimpin yang fenomenal dan populer, tetapi ujung-ujung korupsi. Kan “tidak lucu” ?. 


Terbit di Harian Rakyat Jateng, 29 April 2015
Lebih baru Lebih lama