Menarik sekali membaca tulisan Mohammad Andi Hakim yang berjudul “Mendamba Guru Sejati, Mungkinkah ?” di Jateng Ekspres pada Senin, 20 April 2015. Andi mengatakan, “guru merupakan sosok yang penting penentu keberhasilan belajar. Guru sejati tidak hanya sebuah profesi belaka atau bahkan mencari kekayaan.” Kemudian, “Setiap pribadi manusia memiliki self hidden potential excellence (mutiara talenta yang tersembunyi di dalam diri), tugas pendidik yang sejati adalah membantu peserta didik untuk menemukan potensi dan mengembangkanya seoptimal mungkin.”
Tetapi
Andi menjawab, “menjadi guru sejati tidak semudah yang dibayangkan.” Saya
sepakat, memang sulit sekali guru hari ini
melakukan itu. Kecuali didukung oleh lingkungan yang tepat. Artinya, jika guru harus mampu
membangun suasana belajar kondusif dan mandiri (self-directed learning), maka
peserta didik setidaknya memiliki kompetensi dasar yang kuat, kedewasaan dan ketenangan
hati. Sehingga, kemandirian akan tercipta saat guru memberikan pendekatan model
belajar kondusif dan mandiri.
Seperti
jamak diketahui bahwa pendidikan memegang penting untuk membangun peradaban
bangsa. Pendidikan juga sebagai salahsatu kunci untuk mengatasi problematika. Dan
guru merupakan salahsatu aktor penting dalam pendidikan. Lalu pertanyaanya,
bagaimana cara melahirkan guru sejati ?
Pemerintah
dan seluruh elemen masyarakat perlu menyiapkan langkah strategis sesegera
mungkin guna menggairahkan kembali pendidikan kita. Pertama, meluruskan kembali
ide tentang pendidikan. Pendidikan tidak melulu berbicara tentang jenjang
pendidikan formal. Seperti; TK, SD, SMP, SMA dan Perguruan Tinggi.
Ide
pendidikan di luar pendidikan formal ini penting. Sebab masyarakat tidak akan
terjerat pikiran atau sikapnya untuk belajar hanya di lembaga formal. Sehingga,
mereka akan belajar dengan penuh cinta. Bahkan, tanpa disuruh belajar, mereka
akan belajar dengan sendirinya.
Kedua,
itu perlu menghapuskan slogan wajib
belajar sembilan atau dua belas tahun. Perlu segera disosialisasikan belajar
seumur hidup, atau belajar kapanpun dan dimanapun. Ini menarik sekali jika dapat
terwujud. Masyarakat kita akan menjadi manusia yang tidak bisa lepas dari aktifitas
belajar.
Ketiga, optimalisasi peran Rukun Tetangga (RT) dan Rukun Warga
(RW). Sudah seharusnya, peran RT dan RW
ini diberdayakan dan di optimalkan. Mengapa ? karena keduanya dekat dengan
masyarakat dan mengetahui informasi masyarakatnya.
Pada
dasarnya, RT dan RW merupakan organisasi masyarakat yang diakui dan dibina oleh
pemerintah. Yakni untuk memelihara dan melestarikan nilai-nilai kehidupan
masyarakat Indonesia, yang berdasarkan kegotongroyongan dan kekeluargaan.
Selain itu, untuk membantu meningkatkan
kelancaran tugas pemerintahan, pembangunan, dan kemasyarakatan di desa dan
kelurahan.
Sayang
sekali jika peran RT dan RW ini tidak diberdayakan secara maksimal. Betapa meruginya
pemerintah pusat atau daerah ketika memiliki program, tetapi tidak sampai ke
masyarakat. Dan akhirnya, program hanya sebuah seremonial tanpa bekas atau
bahkan tidak bermanfaat sama sekali.
Oleh
karena itu, program RT dan RW tidak semata-mata jaga malam, bersih-bersih
lingkungan, lomba balap karung dan rapat bulanan. Tetapi harus lebih dari itu.
Misalnya gerakan wajib belajar atau ngaji untuk anak setiap ba’da maghrib, belajar
bersama mingguan, dan program edukatif lainya.
Kedua faktor diatas penting sekali diimplementasikan
untuk membentuk guru sejati. Meskipun masih ada faktor lain yang mendukung.
Karena pada dasarnya, seperti dalam teori kepribadian behaviorisme menurut John Watson (1913),
bahwa manusia adalah produk lingkungan. Segala perilaku manusia sebagian besar
akibat pengaruh lingkungan sekitarnya. Lingkunganlah yang membentuk kepribadian
manusia.
Pendek
kata, ketika lingkungan dibentuk dengan budaya belajar, maka akan menghasilkan manusia yang terpelajar. Dan bukan tidak
mungkin, manusia yang terpelajar akan menjadi guru sejati yang mampu
berkontribusi kepada masyarakatnya.