Sunyi, seperti tidak ada aktifitas manusia saat menginjakkan kaki di Kampoeng Wisata Taman Lele. Terbersit rasa prihatin melihat beberapa satwa tak terurus, area permainan banyak yang tidak layak digunakan, beberapa kandang satwa rusak dan jalan menyusuri objek wisata yang terlihat rusak kusam seperti tidak pernah tersentuh manusia.
Tempat pariwisata itu adalah salahsatu tempat favorit di Kota Semarang pada tahun
1985-2002. Tetapi pada tahun 2003, sejak konser dangdut ditiadakan, daerah ini
sepi pengunjung. Kepala
Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Kampoeng Wisata Taman Lele, Koesno (52)
mengatakan, faktor utama dari permasalahan itu adalah kurangnya dana dari pihak
dinas terkait (SM/5/2/2015).
Pemerintah
dan elemen masyarakat perlu menyiapkan langkah strategis sesegera mungkin guna
menggairahkan Taman Lele. Pertama; menjamin keamanan wisatawan. Wisatawan akan
tergila-gila dengan lokasi wisata jika keamananya terjamin. Sebaliknya, jika di
lokasi wisata ia merasa tidak nyaman, maka mendengar namanya saja sudah enggan.
Perlu
kita ketahui bahwa, peniadaan konser dangdut pada tahun 2003 ini disebabkan
karena adanya kerusuhan penonton setiap konser dangdut digelar. Kericuhan ini
menyebabkan pengunjung lain takut akan keselamatan dirinya. Padahal, saat itu
petugas keamanan juga ikut berjaga di lokasi. Oleh karena itu, jaminan
keselamatan pengunjung penting sekali.
Kedua;
mengstrategiskan kembali lokasi. Sejak penutupan belokan di depan Taman Lele,
akses ke lokasi menjadi sulit. Jika dari arah Jakarta, wisatawan harus putar
balik di belokan sebelum RS. Dr. Adyathma, sehingga akan lebih jauh. Masyarakat
di lingkungan Taman Lele (khususnya utara Taman Lele) juga sulit sampai ke
lokasi.
Dulu
masyarakat di sekitar Taman Lele, tepatnya warga Tapak begitu mudah jika hendak
ke wisata tersebut. Cukup menyeberang depan Kecamatan, yang lokasinya berada
tepat dengan Lele warga bisa bersosialisasi dengan wisatawan.
Selain
itu, tidak adanya rambu-rambu di Jalan sebelum lokasi yang menginformasikan
adanya tempat wisata. Ketidak adaan ini secara tidak langsung akan membunuh secara perlahan tempat ini.
Ketiga;
merevitalisasi aktifitas kebudayaan. Selama ini, pemerintah seperti membuat
bangunan tanpa “penghuni”. Artinya, tidak ada interaksi kebudayaan di Kampoeng
Wisata ini.
Dulu,
setiap malam Jum’at Kliwon ada istihotsah bersama yang dilakukan masyarakat,
tokoh masyarakat dan pejabat setempat. Sehingga Taman Lele ini selain sebagai
tempat wisata, ia memiliki nuansa religious-sosial. Kegiatan itu juga sebagai
sarana komunikasi masyarakat dan pemerintah tentang problematika yang muncul di
tengah masyarakat.
Kemudian dalam Undang–undang kepariwisataan tahun 2009
BAB III, pasal 5, tentang prinsip–prinsip penyelenggaraan kepariwisataan perlu
diimplementasikan. Salahsatunya menjunjung tinggi norma, nilai budaya sebagai
perwujudan dari konsep hidup dalam keseimbangan hubungan antara manusia dan
Tuhan Yang Maha Esa, Hubungan antara manusia dan sesamanya, dan hubungan antara
manusia dan lingkungan. Hal ini jarang diterapkan.
Keempat;
perlu mengadakan penelitian mendalam yang melibatkan berbagai elemen. Selama
ini diakui atau tidak, lembaga sekolah sering mengadakan Study Tour ke Bandung.
Mengapa tidak di Semarang ? padahal esensi dari Study Tour adalah mengenalkan,
memahamkan, mempertajam pengetahuan Siswa terhadap lingkungan, dan menemukan
problematika yang ada. Kemudian mecarikan solusi dari permasalahan tersebut.
Dengan
adanya penelitian, maka setidaknya pemerintah dapat mengetahui apa yang harus
dilakukan untuk kemajuan Kampoeng Wisata Taman Lele khususnya, dan tempat
wisata lain pada umumnya. Sebab, jika sektor pariwisata dikelola dengan
sungguh-sungguh, maka dampaknya banyak sekali. Salahsatunya memberi dampak
positif bagi peningkatan pendapatan masyarakat sekitar dan menghasilkan
pendapatan daerah.
Dan
kelima; bekerjasama dengan lingkungan masyarakat. Pemerintah dalam melaksanakan
programnya, tidak bisa lepas dari peran masyarakat. Kerjasama dengan masyarakat
penting sekali untuk dilakukan. Selain agar Kampoeng Wisata ini terawat dan
teruwat, mereka juga menjadi sumber informasi dan iklan “berjalan”. Sehinggga, informasi
dari mereka dapat menjadi “candu” bagi wisatawan luar daerah.
Taman
Lele selain dekat perkampungan, juga dekat sekali dengan perguruan Tinggi UIN
Walisongo. Pemerintah mulai saat ini harus bergegas-tegas merangkul warga
sekitar Taman Lele, dan Perguruan Tinggi tersebut. UIN Walisongo memiliki
banyak sekali program maupun diskursus tentang kebudayaan. Baik yang dilakukan
Mahasiswa ataupun Dosen. Sehingga, setidaknya Perguruan Tinggi itu dapat
menjadi suplemen untuk bersama-sama memberikan “ruh” Taman Lele.
Intinya,
semua elemen masyarakat harus ikut gotong-royong agar tempat wisata ini tidak
menjadi nama tanpa rupa. Dan semoga kedepan Kampoeng Wisata Taman Lele kembali bangkit
menjadi salahsatu lokasi wisata favorit di Kota Semarang.
M. Sabiq Kamalul Haq
Direktur Kajian Pendidikan dan Kebudayaan
Nusantara UIN Walisongo dan Warga Asli Taman Lele
