Sore tadi melihat seorang mahasiswi yang memakai kaos bertuliskan "Pare Never Ending Story", yang tentu membuatku kangen suasana belajar di Pare Kediri Jawa Timur (kampung inggris/arab).Aku sampai bingung mau cerita mulainya dari mana. Karena saking banyaknya pengalaman disana, yang pada intinya; mendapatkan pengetahuan tentang bahasa inggris dan arab adalah bonus.
Pemandangan di sepanjang Jalan Brawijaya, Jalan Kemuning, Jalan Anyelir, dan sekitarnya dikenal sebagai Kampung Inggris didominasi pengendara sepeda pancal, deretan warung menyediakan aneka menu, kafe, deretan toko, warung internet, dan lembaga kursus bahasa Inggris. Juga deretan ATM aneka bank, jasa laundry, spanduk, dan banner yang jor-joran menawarkan rumah kos. Apalagi saat musim liburan semester kuliah dan sekolah, kemudian bulan ramadhan.
Sepeda bisa disewa murah, Rp60 ribu per bulan. Mereka yang kos di sini (Kampung Inggris) alat transportasinya ke tempat les dan kegiatan keseharian ya pakai sepeda pancal. Hampir tidak ada rumah yang tidak di kos-kan. Lahan kosong dipermak jadi tempat kursus, warung, kafe dan disewakan tempat lain seperti pertokoan dan perbankan.
Menjelang malam, Pare tetap ‘hidup’. Hampir semua warung dan kafe diserbu para pendatang yang memang kos di sekitar Kampung Inggris. Makanan di warung pun harganya super murah. Dengan mengeluarkan uang Rp5.000 sudah dapat seporsi nasi pecel, bakso, atau soto plus minum air putih.
Bagitu juga tempat kos. Tinggal pilih, ada yang kos ‘English Area’ yang mewajibkan penghuninya berkomunikasi dengan bahasa Inggris dan diawasi semacam tutor. Nah, dari sini saya mendapatkan pengetahuan tentang metode pembelajaran..
Ada yang buka kursus 1 bulan, 2 minggu, bahkan 1 minggu. Semua disesuaikan kebutuhan yang kursus. Para alumnus kursus di Pare banyak yang bergabung induknya sebagai pengajar dan ada juga yang membuka tempat kursus baru. Karena ada ribuan alumnus, lahirlah ratusan lembaga kursus bahasa Inggris baru dengan beragam variasi dan metode pengajarannya.
Disana aku bertemu teman-teman dari berbagai daerah dari Sabang sampai Merauke, juga dari Malaysia, Singapura, Kanada, dan Amerika. Tentu tidak hanya bertemu dan bosa-basi saja. Tetapi mencoba untuk tukar pengalaman mengenai pendidikan, kebudayaan, poliitik dan ekonomi disana. Tak lupa juga ketemu adik almamater yang semangat sekali belajarnya; dik Zaenatul Umroh dan Dian Dhiand Isti Fambudi. Semoga cita2nya ke luar negeri lancar ya,,,,
Aku sangat marem disana. Karena sejak November 20 15 sampai dengan Maret 2016 saya menjadi penghuni di Kampung Inggris itu, dan belajar di lembaga kursus yang banyak diminati seperti; Elfast, Global English, Daffodil, Peace, Bule House, Gaza, Kreshna dan Mr. Bob.
Lewat lembaga kursus itulah aku banyak bersahabat dengan profesi; mahasiswa, wartawan, politisi, pengusaha guru, pramugari, pelayar, santri, preman, pelarian, dan lainsebagaianya. Saat berbiacar dengan mereka, saya banyak menemukan pengalaman baru dan membuktikan teori sosial, pendidikan dan politik yang banyak saya baca sebelumnya.
*****
Selain sebagai tempat belajar bahasa inggris&arab, juga banyak yang cinlok disini lho. Ada yang cinlok murid dengan murid, tutor dengan murid. hehehe...
Disini juga ada isilah "pacar peket 2 mingguan dan 1 bulanan" yang mengikuti schedule kursus di kampung inggris ini. Misalkan; si A mengikuti kursus di lembaga X dan ketemu dengan si B. Pada hari pertama kenalan, hari kedua mulai pendekatan dan hari ketiga baru ngedor. Terus dihari terakhir (30 hari) kursus harus putus karena si A atau si B harus kembali kampung halamanya. dan Si A atau si B bsa mencari pacar lain atau meneruskan hubungan yang sebelemnya yang ada kampung halamanya. Tapi ada juga lho yang meneruskan ke jenjang yang lebih tinggi lho.... DAAN>>>> initinya kalau kamu mengamalkan cerita ini, janganlah menjadi manusia yang baper. khsusnya perempuan. hihihihi....
Ya, iyu itulah fenomena cinta yang di kampung ingggris. Ada yg bru kenal 3 minggu lagsung muncul beni-benih suka, bhkan ada jg yg baru pertama knal lgsung PDKT.. (O.M.G)..... hahahahahahaaaa.... eh, kok aku malah cerita ini ya ? sori terbawa emosi. Maklum, masih J*****
Lanjut ke cerita. Kampung yang satu ini kadang juga buat pelarian para pendatang yang kebanyakan adalah anak muda. Mereka datang dari berbagai kalangan; masih pelajar, mahasiswa, kerja, ataupun jobless..
Niat mereka dateng ke tempat yang namanya pare ini juga macem-macem. Ada yang pengen memperlancar bahasa inggris, ada juga yang cuma pengen liburan dan ngisi waktu. Bahkan ada yang sengaja dateng kesini buat tempat pelarian dengan dengan berbagai alasan.
Inilah sedikit cerita saya belajar dsana. maaf tidak bisa menuliskan cerita dengan banyak karena capek juga nulis dg hape android.
Terimakasih banyak kepada Mam Indah Widia Tugmon yang selalu membrikan motivasi belajar bahasa inggris. Juga kepada Mr. ZaenalMuhammad Zainal Arifin dan Hardi Fadli sebagai teman curhat. hehhehee.... guruku termuda Mr. Ventus Storm Phoenix. Mohon maaf kepada dosen yang sudah kaunggap seperti bapakku sendiri Pak M Rikza Chamami, saat itu tidak bisa ngabdi kpaada beliau karena saya harus belajar bahasa inggris. Mas Moh Falihul Isbah terimaksih banyak yah,,, sya sudah ditemani dari semarang sampai pare di hari pertama.
Sekian,