Dikunjungi Pak Ganjar

  

Sejak di tahun 2016 saya diamanahi menjadi ketua Panti Asuhan Al Jannah Semarang, saat itu masih berumur 23 tahun. Mungkin kebetulan saja, karena ketua Panti sebelumnya yang bertempat tinggal di Kendal telah selesai mengemban tugasnya. Sedikit cerita, Panti ini dulunya adalah kos-kosan karyawan pabrik sekitar panti. Sekitar tahun 2006, para karyawan keluar bersamaan dari kos-kosan karena pabriknya pindah ke tempat lain sehingga kos-kosan itu sepi. Pemilik kos H. Bisri dan istrinya kesepian karena rumah seluas itu hanya ditinggali oleh 2 orang, karena kedua anaknya masih mondok di pesantren. Jadi sangat sepi rumahnya. Kemudian punya inisiatif ngopeni anak-anak tidak mampu dan putus sekolah di daerah Bandungan. Saat itu ada 7 anak  yang diasuh, dan belum dalam bentuk panti asuhan. Kemudian tahun 2008 baru membuat Yayasan Al Jannah Semarang yang fokus pada bidang pendidikan, sosial dan agama.

Berdirinya panti ini tidak semulus yang dibayangkan. Pada saat berdiri, ada seorang dari salah satu Kabupaten di Jawa Tengah ingin membangunkan asrama di tanah kosong belakang kos-kosan H. Bisri yang rencananya akan digunakan untuk asrama putra. Tak menunggu lama, orang tersebut membeli bahan bangunan dan membangunkan asrama sampai selesai. Perasaan H. Bisri sangat senang sekali saat itu. Karena tidak menunggu berbulan-bulan, asrama sudah jadi. Namun selang beberapa minggu ada tagihan dari Toko Bahan Bangunan puluhan juta. Ia kaget bukan kepalang. Karena tagihan itu ditujukan kepada dan atasnama H. Bisri. Ditambah lagi orang yang berjanji ingin membangunkan asrama itu nomornya tidak bisa dihubungi dan ditelusuri sesuai alamat KTP nya tidak ketemu. Akhirnya H. Bisri harus menjual tanahnya di sebelah PT Indofood untuk membayar tagihan puluhan juta tersebut dan untuk operasional panti saat awal berdiri. Dan mulai saat itu juga, secara resmi lokasi tanah di belakang rumah H. Bisri dibuat asrama Panti Asuhan Al Jannah dan beliau tinggal di sebelah barat asrama panti.


Direstui Pendekar Bambu Runcing Parakan

Mulanya ingin membangun pesantren Al Qu’an di tanah kosong belakang rumahnya. Cita-cita tersebut ingin diwujudkan karena dulu H. Bisri pernah nyantri kepada KH. Arwani Kudus dan ingin mengembangkan ilmunya melalui pesantren. Seperti tradisi pesantren pada umumnya, untuk mendirikan pesantren perlu sowan ke para Kiai untuk meminta restu. Salahsatunya kepada KH. R Muhaiminan Gunardo.  Beliau adalah pimpinan Pondok Pesantren Bambu Runcing Parakan, sebuah pesantren yang dikenal sebagai pusat pendekar di jaman perjuangan Indonesia. Di Pesantren yang didirikan oleh kakek Beliau inilah nama senjata tradisional Bambu Runcing menjadi sangat terkenal dan ditakuti oleh penjajah Belanda. Mbah Hinan, panggilan akrab KH Muhaiminan Gunardo, dilahirkan di Parakan. Beliau adalah keturunan Raden Santri salah seorang wali yang masih keturunan Pangeran Diponegoro. Saat sowan ke beliau, H. Bisri didawuhi gini “Yi Bisri, awakmu nggawe panti asuhan wae ya. Iseh akeh wong seng kudu dibantu. Tak dongakne jenengan sak keturunan dadi wong sugeh.” Kemudian melanjutkan memberi nama lembaga ini dengan nama Al Jannah. “Di jenengke Al Jannah ya” kata beliau.


 Melawan Pandemi

Selama masa pandemi Panti Al Jannah juga ikut terdampak. Karena hampir  80% operasional dari donatur yang memiliki latar belakang pengusaha. Dan para pengusaha itu hampir semuanya jatuh saat pandemi berlangsung. Bahkan ada donatur yang ingin dibantu oleh lembaga karena usahanya gulung tikar.  Hal ini tentu membuat panti ini juga ikut "sedih" dengan keadaan ini. Pertama, harus memutar otak secara keras ;bagaimana  menghidupi 30 anak yang ada di asrama. Kedua, meski sekolah daring tetap harus membayar SPP seperti sebelum pandemi.

Namun atas ijin Allah, panti ini mampu melewati badai pandemi yang dirasakan oleh semua orang. Saat pandemi Panti Asuhan Al Jannah juga menerima anak yang orangtuanya terdampak covid seperti meninggal, terkena PHK, dan lain sebagainya. Penanganan yang dilakukan oleh Panti ini bisa dilihat rekamanya di berbagai media yang meliput program penanganan covid di Panti Asuhan Al Jannah (bisa dicek beritanya di google)


Dikunjungi Pak Ganjar Pranowo

Sekitar jam 2 siang ada WA masuk melalui nomor staff Panti kalau nnti jam 3 Pak Ganjar ingin berkunjung ke Panti Asuhan Al Jannah. Saya pikir itu bohongan. Karena banyak sekali pesan whatsapp yang masuk mengatasnamakan pejabat dan akan datang. Tapi ditunggu-tunggu tidak datang. Akhirnya kalau ada yang mau datang, kami pikir itu bohongan. Tapi di luar pikiran kami, setengah jam sebelum pak Ganjar Pranowo rawuh, ada staff beliau yang datang ke lokasi untuk menyiapkan tempat penyambutan. Ini membuat kami kaget. Bukan karena yang datang adalah orang nomor 1 di Tawa Tengah. Tapi memang tidak ada persiapan matang. Intinya serba ndadak. Tapi ternyata memang gitu style beliau.

Pak Ganjar mengungjungi Panti Asuhan Al Jannah yang lokasinya belakang rumah kami tepat pukul 16.30 WIB. Beliau langsung meninjau beberapa kamar anak asuh dan dapur yang biasa digunakan untuk memasak setiap hari. Pak Ganjar senang melihat Panti Asuhan Al Jannah. Pas saya ngobrol beliau mengatakan “Pantinya bersih ya. Tertata”.

Saya bercerita, selama pandemi Panti Al Jannah menerima anak yang orangtuanya terdampak Covid, baik meninggal atau karena di PHK karena pekerjaan. Dari obrolan itu ternyata beliau sangat antusias. Bisa dilihat dari status instagram beliau @ganjar_pranowo Di masa pandemi memang mesti banyak menggerakkan orang-orang peduli, orang-orang baik hati. Siapapun mesti menolong dalam bentuk apapun. Seperti Panti Asuhan Al Jannah di Kota Semarang ini. Bertahun-tahun pengabdiannya pd kemanusiaan terus diamalkan. Termasuk di saat pandemi melanda. Semoga terus diberi keistikomahaan berjuang di jalur kemanusiaan.” (bisa cek videonya di Youtube, instagram dan facebook)


M Sabiq Kamalul Haq

Semarang, 3 April 2022

Tulisan Ramadhan

Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama