Saya meyakini
hampir separuh hidup kita dipaksa dengan keadaan. Misal di bulan ramadhan ini
mungkin dalam hati kita tidak mau merasakan lapar, menahan berbuat dosa,
menahan haus dan tidak menahan uang yang ada dompet diberikan ke orang lain.
Saat minyak goreng langka, emak-emak jadi “Mak Erot” dadakan dengan
mengurut-urut dengan keras plastik bekas tempat minyak goreng agar sisa minyak
keluar secara sempurna. Saat BBM naik bapak-bapak juga mendadak jadi “Super
Man” yang super mengurangi pengeluaran pribadi dan penggunaan kendaraan demi
memenuhi kebutuhan keluarga.
Sayapun juga
kadang terpaksa dan kadang juga memaksa orang lain. Ramadhan ini misalnya saya
harus memaksa diri membaca banyak kitab-kitab yang dulu pernah dikaji. Malam hari
saat sholat tarawih juga memaksa dengkul ini sholat tarawih 20 rokaat dan witir
3 rokaat. Apalagi pas jadwal ngimami, saya harus persiapan fisik dan mental dan
kuat. Karena kalau sampai salah baca surat atau lupa roka’at sholat bisa dibuli
banyak orang.
Ketika pergi
dari rumah untuk mempererat relasi dengan rekan kerja kadang merasa sangat
terpaksa. Sebab menjalin relasi itu tak semudah seperti apa yang saya
bayangkan. Sangat mungkin adanya fitnah dan apapun itu, membuat sebuah relasi
mulai renggang bahkan sampai putus. Padahal membangunnya cukup menyita dan
mengorbankan waktu. Tidak hanya itu, mau tidak mau harus bertemu dengan orang
yang tidak se frekuensi yang kadang bikin gembreget. Lagi-lagi mau tidak
mau, suka atau tidak harus bertemu. Karena saya punya tujuan ada pemasukan
untuk kebutuhan keluarga. Apapun kalau yang namanya untuk keluarga pasti urat
malu dan urat jengkel itu hilang, ditambah perasaan tidak tega kalau anak-istri
sampai “tidak bisa makan”.
Banyak hal juga
yang saya harus memaksa orang. Santri yang ngaji di rumah saya paksa bangun
pagi menyiapkan untuk persiapan sekolah dan sarapan tepat waktu. Saat malam
saya paksa tidur lebih awal agar bisa jama’ah subuh secara mandiri tanpa digugah.
Mau tidak mau karena sudah menjadi santri, mereka harus disiplin mematuh
peraturan yang “tidak enak” dirasakan oleh tipe anak zaman ini. Di sebuah
organisasi kadang saya memaksa orang untuk ikut saya. Mungkin bagi mereka hal
tersebut membuat mereka agak belepotan dan kepontal-pontal mengikuti arah
pikiran saya.
Namun memaksa
dan dipaksa tidak ada yang sia-sia. Semua itu digerakkan oleh Sang Pencipta.
Dan itu pilihan terbaik. Mulai dari ibu-ibu yang mulai mengurangi minyak goreng
karena keadaan membuat keluarganya mulai terhindar dari kolestrol dan penyakit
lainya. Menjadi imam sholat tarawih 20 rokaat membuat tubuh mulai rileks karena
sering digerakkan, apalagi sebelumnya jarang berolahraga dan sangat mungkin
dapat meningkatkan daya ingat dan konsentrasi. Keterpaksaan bertemu dengan
orang yang tidak disuka melatih profesionalisme dalam bekerja. Santri-santri
yang dipaksa displin menjadikan mereka sukses setelah lulus, dan ini terbukti.
Santri-santri yang mengikuti peraturan banyak menjadi pribadi yang sukses. Mereka
ada yang jadi pengusaha, manajer dan direktur sebuah perusahaan, dosen dan lain
sebagainya. Memaksa anggota dalam sebuah organisasi dalam persoalan tertentu
membuat mereka akhirnya sadar betapa pentingnya pengambilan keputusan dengan
pikiran dan strategi yang matang. Dan sekali lagi, tak ada yang sia-sia.
Keterpaksaan
yang tidak selalu mengenakan itu pasti akan hilang dengan cara menjadi “pawang”
untuk diri sendiri. Pawang disini diartikan sebagai kuasa atau mampu merubah
kondisi yang ada dalam (dari) diri sendiri. Saat bertemu dengan orang dalam
hati tidak merasa “sreg”, maka Anda harus menjadi “pawang” dalam diri dan ingat
bahwa silaturahmi membawa keberkahan, kesehatan, umur panjang dan kelancaran
rejeki.
Semarang, 3 April 2022 (1
Ramadhan 1433 H)
M Sabiq Kamalul Haq
