Otobiografi Intelektual Prof. H. Abdurrahman Mas’ud, Ph.D
Mendakwahkan Smiling
Islam: Dialog Kemanusiaan Islam dan Barat
(Tanggerang: Yayasan
Compass Indonesiatama, 2019)
Xxiv + 340 halaman
Reviewer : M Sabiq Kamalul Haq
(sabiq01@gmail.com)
BAB I: Tradisi dan Islam
Ramah
Bagian pertama : Pak
Abdurrahman terlahir dari seorang pengusaha tekstil terkenal di daerah Damaran
Kudus. Meskipun dalam kehidupan serba kecukupan, ia tetap menjadi pribadi yang
sederhana dan bersahaja. Hal ini tidak terlepas dari peran pendidikan
keteladanan yang ditanamkan oleh orangtuanya. “kehidupan keluarga saya, walaupun banyak
orang mengatakan keluarga kaya, tapi diwarnai dengan kesederhanaan. Misalnya
dalam hal menentukan menu makanan, ibu saya, Hj. Chumaidah tidak sebagaimana
orang kaya lainnya yang selalu bermewah-mewahan. Tapi ia memilih masakan yang
ala kadarnya, yang penting bergizi dan sehat.”[1]
Tidak hanya itu saja, meskipun ia dibesarkan dalam keluarga kaya raya, ia
tetap belajar agama di lingkungan tempat ia tinggal, dan berguru pada para Kiai
Kondang saat itu seperti KH. Arwani Kudus, KH. Ma’ruf Irsyad (paman pak Dur).
Ayah Pak Abdurrahman sangat mendukungnya dalam mengaji agama dan selalu
mengajak anaknya mengikuti pengajian KH. Syukron Makmun di Rembang meskipun
jarak tempuhnya sangat jauh.
Bagian kedua : Qudsiyah baginya sangat berjasa besar dalam pembentukan
pribadinya setelah keluarga. Pengalaman di Qudsiyah ia lukiskan begitu jelas: “Hormat pada kiai, patuh pada orang tua,
menjunjung tinggi senior dan ramah kepada yang masih muda masih saya pegang.”[2]
Seperti pengajaran pesantren pada umumnya,
ia belajar tentang fiqh, adab, nahwu, shorof, ahlussunah wal jama’ah,
ulumul qur’an dan lain sebagaianya. Dan selama bulan ramadhan ia berguru atau ngaji posonan pada tahun 1977 dan 1978
kepada KH. Sahal Mahfudh di Pesantren Maslakul Huda Kajen Pati. Namun ada
kegiatan Pak Abdurrahman yang dipandang aneh saat itu, yaitu hobi menonton
bioskop, radio dan TV.
Tradisi pesantren mengenal istilah “ijazah khusus” yang diberikan oleh Kiai
kanuragan atau kiai ahli hikmah. Dan abdurrahman pernah menggunakan ijazah
khusus dari Kiai Sofyan Menara untuk dapat menghilang. Dan ia menggunakan
ijazah itu untuk menonton bioskop secara gratis. Namun setelah ia renungi, ia
agak takut menggunakanya lagi karena takut tidak bisa kembali.
Bagian ketiga : sekitar tahun 1980 sampai 1987 ia kuliah di IAIN Syarif
Hidayatullah, dan disinilah perjuangan “memeras otak dan keringat”. Sekali
lagi, meskipun ia dari keluarga berkecukupan namun ia tetap prihatin menjalani
kehidupan di Jakarta. “sangu (bekal) yang diberikan orang tua ketika kuliah
hanya Rp. 30.000 – per bulan. Bisa dibayangkan hidup di Jakarta tahun 1980 an
hanya diberi sangu pas-pasan”[3]
Tidak hanya hidup prihatin, ia juga menderita karena putus cinta dengan
gadis asal Jakarta. Penderitaan yang bertubi-tubi itu ia lampiskan dengan: “....menghabisikan waktu dari perpustakaan
ke perpustakaan dengan menyelami buku ke buku yang lain”[4]
Di Jakarta ini ia bertemu tokoh dan menjadi gurunya dalam segala hal yaitu
Gus Dur melalui organisasi Lakspesdam NU di Jakarta. Dan juga tokoh intelektual
Azyumardi Azra yang ia sering mendampini beliau memoderatori berbagai acara
seminar.
Bagian keempat: tahun 1990 ia berangkat ke Amerika pada musim panas. Pada saat perjalanan ia merasa sedih karena
harus meninggalkan istri dan dua anak. Tak hanya itu, sesampainya di Amerika ia
tidak doyan dengan Pizza, sebuah makanan popoler di negara Paman Sama itu. “...sebagai orang Indonesia saya tentu lebih
terbiasa makan nasi. Cultural shock !”[5]
Beberapa hari kemudian ia bertemu keluarga Indonesia yaitu Mas Fauzi
Sulaiman yang merupakan putra pendiri Masjid Salman ITB. Dan kabar bahagianya
ia menawarkan makan malam. “....Hmmm..
sungguh bak makanan di surga. Dua minggu nggak ketemu makanan Indonesia, langsung
disambut sambal hijau khas padang. Luar biasa dahsyat, alhamdulillah!”
Bagian kelima : saat ia kuliah di Amerika, ia harus mencari pos anggaran tetap untuk
menghidupi keluarga istri dan 2 anak laki-laki. Selama 16 jam per minggu iya
kerja part time di perpustakaan kampus istrinya juga ikut membantunya. dalam
hal ekonomi dengan bekerja di supermarket yang membuat sushi atau makanan khas
Jepang
Karena sangking butuhnya uang ia tidak malu untuk meminta tolong kepada temannya yang bernama
Abu hafsin dan Hendri. Mereka semestinya
mengajar Al Qur’an di Dharma Wanita Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI)
Los Angeles. “Mas Abu, ini kan saya lagi duafa. Gimana kalau yang ngajar saya aja,”[6] Dan keduanya abu hafsin dan Mas Hendri
memberikan kesempatan kepadanya untuk mengajar sendirian. Sikap lapang dada
mereka tidak pernah ia lupakan sampai sekarang.
Menurutnya, kegiatan sosial keagamaan ini sudah pasti jarang diperhatikan
oleh publik karena perguruan tinggi agama yang kuliah di Amerika sering dicap
agen sekularisasi atau antek-antek Yahudi.
Bagian keenam: setelah
lulus dari S2 ia langsung melanjutkan program doktor di Universitas Calivornia
USA. Selama di Amerika ia terlibat aktif di organisasi Ikatan Cendekiawan
Muslim Indonesia (ICMI). Bedanya ICMI di Amerika sama sekali tidak ada nuansa
politik murni sebagai organisasi yang mengkaji masalah agama secara akademis
dan intelektual.
Pada tahun 1994 Gus Dur mengunjungi Amerika untuk bertemu Prof Mark Woodward.
Saat itu Prof. Abdurrahman Mas’ud merasa bangga karena ditelepon langsung oleh
ibu Sinta Nuriyah dan ingin meminjam disertasinya yang membahas tentang Syekh
Nawawi Al Bantani. Tentu momen tidak dapat ia lupakan.
Bagian ketujuh: buku ini sudah mulai menceritakan “smiling Islam”.
Prof. Masud menyatakan bahwa komitmenya terhadap agama dipengaruhi oleh faktor
sosio-historis yang dapat menjadikanya mampu menyandingkan wacana tradisionalitas
dan modernitas. Ia menulis tentang “The Pursuit of Knownlege in Islam” di bumi
Amerika. Tulisan itu hendak menyampaikan pentingnya mencari ilmu dalam Islam.
Karena jika ilmu itu dikuasai oleh non muslim, yang akan terjadi adalh
penderiataan Islam seperti yang kita rasakan saat ini.
Bagian Kedelapan: menjelaskan tentang ruang dialog cross cultural. Pengalamanya
saat berinteraksi dengan dunia kampus AS memberikan pelajaran bahwa potensi
manusia untuk berdamai harus diberi
ruang dan dilatih secara istiqomah sebagaimana bulan ramadhan. Tidak hanya itu,
dialog kemanusiaan itu sangat penting karena “kenyataanya adalah dunia Islam
mendambakan kedamaian, sama seperti orang Barat memimpikanya. Kita orang Barat,
harus belajar untuk mengatasi benturan budaya”[7]
BAB
II: Islamic Studies dan Pesantren
Bagian Sembilan: bagian ini menjelaskan sejarah munculnya Islam pada. Nabi
Muhammad melihat ada yang tidak beres dalam kehidupan orang-orang Arab saat
itu, misalnya gap antara si kaya dan si miskin, yang kuat menindas yang lemah,
dan lain sebagainyal. Adapun tentang tauhid, sebenarnya masyarakat Arab sudah
mengenalnya sejak lama dengan “agama ibrahim”. Hal yang luar biasa adalah Nabi
Muhammad berhasil menyatukan jazirah arab dalam waktu singkat hanya dalam waktu
23 tahun. Ini karena nabi muhammad mampu menyatukan nafas Islam dengan budaya
Arab pada waktu itu.
Bagian
Sepuluh : Latar
belakang berdirinya madrasah Nizamiyah yang paling mendasar dalam literatur
sejarah peradaban Islam adalah adanya perseteruan antara kelompok Sunni dinasti
Saljuq dengan kelompok Syi’ah dinasti Fatimiah di mesir. Dinasti Saljuq
berkeyakinan bahwa ideologi harus dilawan dengan ideologi. Karenanya institusi
madrasah merupakan senjata atau alat dalam menamakan doktrin-doktrin sunni
sebagai bentuk perlawanan paham Syi’ah. Kesimpulanya, Institusi pendidikan yang dirangsang oleh
dialog keagamaan yang luas di kalangan masyarakat Sunni dan melibatkan
patronase penguasa. Dengan kata lain, selain ekspresi agama dan budaya memang
mendominasi kehidupan pendidikan dan sosial, ranah politik juga memberikan
andil yang signifikan.
Bagian Sebelas : akar dari pendidikan Islam dapat ditelusuri kembali ke awal lahirnya Islam
itu sendiri. Our'an dan Hadits menjadi "kurikulum" yang paling
penting dan menginspirasi. Selama empat abad pertama Islam, agama telah secara
efektif mendorong dan mengilhami orang-orang belajar.
Bagian Dua Belas : Kiyai merupakan figur sentral di pesantren. Ia memimpin
dan mengarahkan pesantren dengan kharismanya, konsistensinya dalam beribadah
yang menjadi suri tauladan bagi santri. Seorang kiyai adalah guru spiritual
bagi para santri. Bagi mereka, ia telah berhasil menemukan jalan kebenaran
(shiratal mustagim). Beberapa kiai bahkan dipandang sebagai wali oleh
masyarakat yang kadang dapat mengobati berbagai penyakit.
Bagian Tiga Belas: Bagian ini menjelaskan bahwa mengapa pesantren tetap
berdiri kokoh dan unik bahkan semakin menguat. Karena: ada sosok kiai yang
istiqomah atau konssiten, mampu menggabungkan budaya lokal masyarakat dengan
nafas Islam, tidak hanya dakwah dengan kata-kata namun dengan hal (tindakan),
dan pemahaman agama yang kuat.
Bagian Empat Belas: pesantren mempersiapkan calon alumni dengan “Sufi Jawa |
berorientasi-hidup”, cara hidup yang menekankan perdamaian dan harmoni dengan
Allah (Pembimbing kehidupan spiritual dan material) dan masyarakat.
Bagian Lima Belas : Prof. Abdurrahman Mas’ud meyakini bahwa lahirnya sunni
jauh sebelum abad ke 9 karena sudah ada
praktik sunnisme dalam praktik keagamaan. Ia banyak berbeda pendapat dengan
para sejarawan barat yang mengatakan sunnni berkembang pada abad ke IX.
Bagian Enam Belas : Etos kerja yang tinggi yang dibangun sejak kecil dan
lingkungan mendukung, membuat santri kudus yang lebih maju dibanding santri di
daerah lain. Ada sebuah ungkapan “GusJiGang” yang berarti bagus akhalaq, Pinter
Ngaji dan Pintar Dagang. Spirit ini yang dibawa oleh para santri kudus.
Bagian Tujuh Belas : menjelaskan review buku “The Transmission of Knowledge in
Medieval Cairo: A Social History of Islamic Education” karya Jonathan Berkey
menjelaskan konsekuensi sosial
dan budaya dari penghormatan Islam terhadap pengetahuan, menunjukkan bagaimana
pendidikan di Abad Pertengahan memainkan peran sentral soal keagamaan. Berfokus
pada Kairo, yang di bawah kekuasaan Mamluk (1250-1517) merupakan pusat
intelektual luar biasa dengan sistem sosial yang kompleks, penulis buku ini
menggambarkan transmisi pengetahuan agama sebagai proses individu, yang
bergantung antara guru dan siswa.
BAB
III: Dialog Islam dan Barat
Bagian Delapan Belas: dalam berbagai kesempatan ia terus menggelorakan
pentingnya dialog Islam dan Barat dalam mengatasi masalah terorisme, termasuk
ketika ia memegang jabatan Ketua MP3 Jawa Tengah, Wakil Ketua DRD (Dewan Riset
Daerah) Jawa Tengah dan berbagai riset lainya.
Ini penting disampaikan karena kata jihad itu sangat disalahpahami oleh
dunia Barat baik dalam wacana politik, publik, maupun academic discourse. Tapi
juga tidak sedikit umat Islam yang berpandangan bahwa jihad Identik dengan
perang. Karena paham ini sering dilontarkan dari mimbar ke mimbar, ilmuwan, dan
dunia Barat sering mengidentikkan jihad dengan kekerasan
Bagian Sembilan Belas : merupakan pidato pengukuhan guru besar Prof. Abdurrahman
Mas’ud di IAIN Walisongo pada tahun 2004.
Judulnya sangat menarik yaitu “Membuka Lembaran Baru Dialog
Islam-Barat”. Lembaran baru dialog Islam-Barat harus diwujudkan dengan landasan
filosofis bahwa semua budaya setara dan masing-masing bisa mencapai tujuan
bersama, serta bersama-sama mengikuti undang-undang universal berdasarkan akal
sehat, hak untuk belajar, alam serta penggunaan hukum alam ini.
Melawan kekerasan bukanlah dengan kekerasan, karena kekerasan hanya akan
menghasilkan kekerasan itu sendiri. Dunia Islam semestinya bisa bekerjasama
dengan siapapun termasuk dengan dunia Barat dalam memerangi kesewenangwenangan,
kekerasan, ketidak adilan, kemiskinan, serta segala bentuk ketertinggalan. Cara
terbaik untuk memerangi radikalisme agama-agama adalah dengan membackup
(mendukung) lembaga-lembaga demokrasi yang lebih mendahulukan kedamaian seperti
kontreks Indonesia NU-Muhammadiyah.
Bagian Dua Puluh: Arogansi AS yang
dipertontonkan diatas planet ini, semakin mempersulit tugas-tugas kemanusiaan
di masa depan. Hubungan Islam-Barat semakin buram akibat ulah negara adikuasa
yang mencoba menyaingi kuasa Tuhan. Maka solusi atas injustice sistem global
adalah dengan dialog konstruktif misalnya dengan menjembatani gap dunia Islam
dengan Barat dan membandingkan pemikiran keduanya dengan objektif dan kritis.
Bagian Dua Puluh Satu : Islam Indonesia memiliki modal bagi “jembatan
peradaban”. Hal ini terjadi karena moderatisme dan kemodernan Islam. Adapun
caranyam Pertama, dialog antariman. Kedua, dialog budaya. Ketiga, dialog Islam
dan modernitas. Pembentukan nasionalisme Islam dengan kasus keselarasan Islam
Pancasila bisa menjadi model hubungan simbiosis-mutualisme antara Islam dan
ideologi nasional.
Bagian Dua Puluh Dua : Alam dan lingkungan bagi masysrakat Barat merupakan kelas terbuka untuk
belajar. Dampak positif dari cara pandang ini adalah, alam dipandang sebagai
themother nature, ibu pertiwi. Karena sistem pendidikan di Barat tidak
memanjakan anak, maka mereka juga tidak merasa dimanjakan oleh alam. Maka
pendidikan pendidikan berwawasan lingkungan sangat penting untuk kelangsungan
alam yang sehat. Kalimat “innallah jamal, jamal” perlu diaplikasikan dalam
kehidupan sehari-hari. Karena dalam konteks pendidikan Islam selama ini kurang
bersentuhan dengan wawasan lingkungan hidup. Dan sesuggguhnya manusia itu
adalah “kholifah fil ardh” yang bertugas menjaga kebersihan planet bumi ini.
Bagian Dua Puluh Tiga: Bagian akhir ini ada pertanyaan menarik. “Apa yang membuat Indonesia itu
ada dan terus ada di tengah kemajemukan itu? Salahsatunya adalah adanya
kesepakatan atau titik temu tentang dasar-dasar negara dan kesadaran atau
penerimaan akan negara yang multikultur ini. Hal ini dalam perkembangannya
dikenal dalam Empat Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara, atau Empat Pilar
Kebangsaan.”
Inilah
yang Menarik
Keseimbangan Hidup
Setelah membaca buku “Mendakwahkan
Smiling Islam: Dialog Kemanusiaan Islam dan Barat” semakin mematangkan pendapat
saya bahwa Prof. Abdurrahman adalah duta Islam di mata barat. Ia mendakwahkan
smiling Islam dalam karya-karya ilmiah yang sangat berbobot sehingga
mencerahkan pembaca memahami pandangan segar Islam yang humanis.
Buku ini memberikan perspektif yang
menyakinkan pembaca bahwa seseorang tidak sekedar mengejar dunia saja, namun
kegiatan di dunia sebagai bekal di akhirat. Hal demikian seperti kisah Nabi
Muhammad SAW saat
menerima kedatangan rombongan tamu yang berasal dari pedalaman ke Madinah. Mereka bercerita tentang salah seorang ahli ibadah di daerahnya,
salatnya rajin dan khusyuk, iktikafnya tak mengenal waktu, pun dengan zikirnya
yang tiada henti. Masyarakat pun menilai kegiatan ritual yang dilakukan orang
tersebut sebagai kegiatan paling mulia.
Hal utama yang ditanyakan Muhammad SAW ialah perihal
kehidupan dunianya, bagaimana dengan kehidupan dan kecukupan nafkah bagi
keluarganya. Mendengar pertanyaan tersebut, rombongan tersebut menjawab
merekalah yang menanggung kecukupan hidup keluarga sang ahli ibadah. Dengan
santun dan lembut, Muhammad SAW justru mengucap bahwa mereka (kelompok yang
datang kepada Muhammad SAW)-lah yang lebih baik daripada pria yang gemar
beribadah tanpa lelah. Rupanya Rasulullah SAW memiliki alasan atas ucapannya.
Bagi beliau, apakah jika pria yang selalu beribadah tersebut terbebani oleh
urusan dunia seperti anak dan istri, lantas masih tetap bisa tekun beribadah.
Sikap keseimbangan
antara dunia dan akhirat tidak serta merta bisa tertanam pada diri seseorang
tanpa dukungan lingkungan yang baik. Tempat tinggal lahir Prof. Abdurrahman di
Desa Damaran sebagai salah satu Desa di Kudus terkenal dengan iklim agama dan
dagang, terutama tekstil. Juga
masih sangat kental dengan budaya Kudus yang hidup dengan apa adanya dan hormat
kepada Kiai. Sehingga apabila dilihat dari sosiohistoris, iklim Kudus banyak
mempengaruhi pola pikir dan sikap
Abdurrahman yang memang sejak kecil sudah berkecimpung di dunia agama.
Dari sisi historis, Prof. Abdurrahman belajar agama dulu dan tidak tergiur
dengan bisnis/kerja. Ini adalah sesuatu yang langka, karena orang tua yang
memiliki profesi dagang biasanya anak-anaknya ada kecenderungan dagang juga. Tentu
ketidaktertarikan ini karena didikan agama yang kuat dari keluarga sudah
mengakar dalam diri Prof. Abdurrahman Mas’ud. Juga tidak lepas dari para kiai
kondang saat itu seperti KH. Ma'ruf Asnawi, KH. Yahya Arif, KH.
M. Sya'roni Ahmadi, KH. Ma'ruf Irsyad (paman Abdurrahman), K. Abdul Jalil dan
lain-lain)
Faktor sosio-historis
Abdurrahman tidak hanya mempengaruhi komitmennya pada agama, tetapi juga
menjadikan Abdurrahman sebagai seorang pemikir yang dapat memahami wacana
tradisionalitas dan modernitas. Tradisi pesantren yang dibentuk di lingkungan
keluarganya, telah berhasil dibela secara akademis. Hal ini terbukti bahwa
dalam disertasinya yang ditulis dengan bahasa Inggris yang berjudul: The
Pesantren Architects and Their Socio Religious Teachings. Disamping faktor
sosio-historis, pemikiran Abdurrahman juga dipengaruhi oleh faktor
"sosio-politik", karena keterlibatannya dalam struktur organisasi
seperti di PMII Cabang Ciputat Jakarta dan LAKPESDAM NU di Jakarta.
Konsisten
Mendakwahkan Figur “smiling islam”
Menampilkan sisi agama yang santun di
tengah kehidupan masyarakat sebagai perisai dan laku hidup keseharian itu bagai
menghiasi diri dengan keindahan-keindahan secara lahir dan batin. Kefiguran yang ditampilkan dengan sikap tersebut
membuat masyarakat terlena. Akhirnya, agama tidak dipandang ruwet tapi luwes
dan luas. Agama sebagai sumber nilai dan norma bukan berarti selalu melarang
setiap tradisi yang menyimpang dengan agama, tapi memperbaharui, meluruskan,
membenarkan dengan cara-cara akulturasi yang baik.
Konsistensi membawa Islam ramah adalah
sesuatu yang sulit untuk dilakukan. Karena manusia memiliki kecenderungan bosan
pada sesuatu yang itu-itu saja. Namun Prof. Abdurrahman tidak bosan dengan
mendakwahkan “smiling Islam”. Ini dapat dilihat dari berbagai karya-karyanya
maupun berbagai pengabdian di berbagai organisasi dari tingkat sekolah, kampus,
kota, provinsi, nasional bahkan internasional.
Dalam dunia pesantren, konsisten ini
sering diucapkan sebagai istikomah. Para Ulama mengatakan "Al-Istiqomah
khoirun min alfi karomah" yang artinya Istiqamah lebih baik daripada
seribu karomah. Orang yang istiqamah adalah mereka yang konsisten dan
terus-menerus melakukan ibadah dan ketaatan kepada Allah. Secara bahasa,
istiqamah berarti tegak, lurus, taat asas, atau kuat dalam pendirian. Istiqamah
terbagi tiga macam, yaitu istiqamah dengan lisan, istiqamah dengan hati, dan
istiqamah dengan perbuatan.
Rasulullah SAW. telah
bersabda “Sebaik baik amalan itu adalah amalan yang langgeng atau istiqomah,
walaupun hanya sedikit”. Meskipun amalan yang kita lakukan sedikit, akan tetapi
jika kita selalu istiqomah dalam mengerjakannya, Insya Allah hal itu akan
menjadi barometer kemulian seorang hamba disisi Allah SWT.
Istiqomah juga berarti
menahan hawa nafsu. Nafsu merupakan sebuah tabiat yang tertarik akan hal baru,
nafsu juga cenderung mencari karomah bukan istiqomah. Seperti yang telah
dikatakan oleh para Ulama’ yakni: “Jadilah kalian sebagai pencari istiqomah,
jangan menjadi pencari karomah”.
Kesimpulanya,
beliau adalah sosok yang istqqomah Mendakwahkan Islam Ramah:
Istiqomah dakwah bil kitabah (fokus
menulis tentang dunia pesantren dan humanisme), bil lisan (mengisi ngaji sejak muda sampai sekarang), dan bil
birokraatiyah (menggunakan jabatan sembari berdakwah).
[1] Halaman 8
[2] Halaman 13
[3] Halaman 24
[4] Halaman 24
[5] Halaman 29
[6] Halaman 37
[7] Wawancara Wartawati Muda Nicole Chvrette
kepada Prof. Abdurrahman Mas’ud, hlm 79.

