Buku Bagus yang Berjudul "Smiling Islam" Wajib Kamu Baca !

Review Buku:

Otobiografi Intelektual Prof. H. Abdurrahman Mas’ud, Ph.D

Mendakwahkan Smiling Islam: Dialog Kemanusiaan Islam dan Barat

(Tanggerang: Yayasan Compass Indonesiatama, 2019)

Xxiv + 340 halaman

 

Reviewer : M Sabiq Kamalul Haq (sabiq01@gmail.com)


Buku ini menarik untuk dibaca karena tidak seperti buku otobiografi pada umumnya. Biasanya otobigrafi hanya menyampaikan kisah perjalanan penulis disertasi bumbu-bumbu mirip bahasa novel. Buku 340 halaman ini menyajikan sejarah pribadi yang akhirnya membentuk pemikiran yang mapan tentang dialog Islam dan Barat, sehingga menyajikan “Smiling Islam”.  Penulis berkali-kali menyebut bahwa pemikiranya dipengaruhi oleh keadaan sosial kultural saat ia belajar di Kudus, Ciputat dan di Amerika.

BAB I: Tradisi dan Islam Ramah

Bagian pertama :  Pak Abdurrahman terlahir dari seorang pengusaha tekstil terkenal di daerah Damaran Kudus. Meskipun dalam kehidupan serba kecukupan, ia tetap menjadi pribadi yang sederhana dan bersahaja. Hal ini tidak terlepas dari peran pendidikan keteladanan yang ditanamkan oleh orangtuanya.  kehidupan keluarga saya, walaupun banyak orang mengatakan keluarga kaya, tapi diwarnai dengan kesederhanaan. Misalnya dalam hal menentukan menu makanan, ibu saya, Hj. Chumaidah tidak sebagaimana orang kaya lainnya yang selalu bermewah-mewahan. Tapi ia memilih masakan yang ala kadarnya, yang penting bergizi dan sehat.”[1]



Tidak hanya itu saja, meskipun ia dibesarkan dalam keluarga kaya raya, ia tetap belajar agama di lingkungan tempat ia tinggal, dan berguru pada para Kiai Kondang saat itu seperti KH. Arwani Kudus, KH. Ma’ruf Irsyad (paman pak Dur). Ayah Pak Abdurrahman sangat mendukungnya dalam mengaji agama dan selalu mengajak anaknya mengikuti pengajian KH. Syukron Makmun di Rembang meskipun jarak tempuhnya sangat jauh.

Bagian kedua : Qudsiyah baginya sangat berjasa besar dalam pembentukan pribadinya setelah keluarga. Pengalaman di Qudsiyah ia lukiskan begitu jelas: “Hormat pada kiai, patuh pada orang tua, menjunjung tinggi senior dan ramah kepada yang masih muda masih saya pegang.”[2]

Seperti pengajaran pesantren pada umumnya,  ia belajar tentang fiqh, adab, nahwu, shorof, ahlussunah wal jama’ah, ulumul qur’an dan lain sebagaianya. Dan selama bulan ramadhan ia berguru atau ngaji posonan pada tahun 1977 dan 1978 kepada KH. Sahal Mahfudh di Pesantren Maslakul Huda Kajen Pati. Namun ada kegiatan Pak Abdurrahman yang dipandang aneh saat itu, yaitu hobi menonton bioskop, radio dan TV.

Tradisi pesantren mengenal istilah “ijazah khusus” yang diberikan oleh Kiai kanuragan atau kiai ahli hikmah. Dan abdurrahman pernah menggunakan ijazah khusus dari Kiai Sofyan Menara untuk dapat menghilang. Dan ia menggunakan ijazah itu untuk menonton bioskop secara gratis. Namun setelah ia renungi, ia agak takut menggunakanya lagi karena takut tidak bisa kembali.

Bagian ketiga : sekitar tahun 1980 sampai 1987 ia kuliah di IAIN Syarif Hidayatullah, dan disinilah perjuangan “memeras otak dan keringat”. Sekali lagi, meskipun ia dari keluarga berkecukupan namun ia tetap prihatin menjalani kehidupan di Jakarta. “sangu (bekal) yang diberikan orang tua ketika kuliah hanya Rp. 30.000 – per bulan. Bisa dibayangkan hidup di Jakarta tahun 1980 an hanya diberi sangu pas-pasan”[3]

Tidak hanya hidup prihatin, ia juga menderita karena putus cinta dengan gadis asal Jakarta. Penderitaan yang bertubi-tubi itu ia lampiskan dengan: “....menghabisikan waktu dari perpustakaan ke perpustakaan dengan menyelami buku ke buku yang lain[4]

Di Jakarta ini ia bertemu tokoh dan menjadi gurunya dalam segala hal yaitu Gus Dur melalui organisasi Lakspesdam NU di Jakarta. Dan juga tokoh intelektual Azyumardi Azra yang ia sering mendampini beliau memoderatori berbagai acara seminar.

Bagian keempat:   tahun 1990 ia berangkat ke Amerika pada musim panas. Pada saat perjalanan ia merasa sedih karena harus meninggalkan istri dan dua anak. Tak hanya itu, sesampainya di Amerika ia tidak doyan dengan Pizza, sebuah makanan popoler di negara Paman Sama itu. “...sebagai orang Indonesia saya tentu lebih terbiasa makan nasi. Cultural shock ![5]

Beberapa hari kemudian ia bertemu keluarga Indonesia yaitu Mas Fauzi Sulaiman yang merupakan putra pendiri Masjid Salman ITB. Dan kabar bahagianya ia menawarkan makan malam. “....Hmmm.. sungguh bak makanan di surga. Dua minggu nggak ketemu makanan Indonesia, langsung disambut sambal hijau khas padang. Luar biasa dahsyat, alhamdulillah!”

Bagian kelima :  saat ia kuliah di Amerika, ia harus mencari pos anggaran tetap untuk menghidupi keluarga istri dan 2 anak laki-laki. Selama 16 jam per minggu iya kerja part time di perpustakaan kampus istrinya juga ikut membantunya. dalam hal ekonomi dengan bekerja di supermarket yang membuat sushi atau makanan khas Jepang

Karena sangking butuhnya uang ia tidak malu untuk  meminta tolong kepada temannya yang bernama Abu hafsin  dan Hendri. Mereka semestinya mengajar Al Qur’an di Dharma Wanita Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Los Angeles.  “Mas Abu, ini kan saya lagi duafa. Gimana kalau yang ngajar saya aja,”[6] Dan keduanya abu hafsin dan Mas Hendri memberikan kesempatan kepadanya untuk mengajar sendirian. Sikap lapang dada mereka tidak pernah ia lupakan sampai sekarang.

Jadi di Amerika Abdurrahman Mas'ud menjadi Kyai dan memenuhi beberapa undangan ceramah hari-hari besar Islam di negara yang cukup jauh. Bahkan selama kuliah 7 tahun di Amerika hampir tidak lepas dari kegiatan keagamaan misalnya kegiatan pengajian khotbah di beberapa kampus prestisius, menghadiri tahlilan, tarawih, ceramah dari rumah ke rumah anggota muslim sampai ke gedung KJRI Los Angeles,San Francisco, Housedown dan Texas.

Menurutnya, kegiatan sosial keagamaan ini sudah pasti jarang diperhatikan oleh publik karena perguruan tinggi agama yang kuliah di Amerika sering dicap agen sekularisasi atau antek-antek Yahudi.

Bagian keenam: setelah lulus dari S2 ia langsung melanjutkan program doktor di Universitas Calivornia USA. Selama di Amerika ia terlibat aktif di organisasi Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI). Bedanya ICMI di Amerika sama sekali tidak ada nuansa politik murni sebagai organisasi yang mengkaji masalah agama secara akademis dan intelektual.

Pada tahun 1994 Gus Dur mengunjungi Amerika untuk bertemu Prof Mark Woodward. Saat itu Prof. Abdurrahman Mas’ud merasa bangga karena ditelepon langsung oleh ibu Sinta Nuriyah dan ingin meminjam disertasinya yang membahas tentang Syekh Nawawi Al Bantani. Tentu momen tidak dapat ia lupakan.  

Bagian ketujuh: buku ini sudah mulai menceritakan “smiling Islam”. Prof. Masud menyatakan bahwa komitmenya terhadap agama dipengaruhi oleh faktor sosio-historis yang dapat menjadikanya mampu menyandingkan wacana tradisionalitas dan modernitas. Ia menulis tentang “The Pursuit of Knownlege in Islam” di bumi Amerika. Tulisan itu hendak menyampaikan pentingnya mencari ilmu dalam Islam. Karena jika ilmu itu dikuasai oleh non muslim, yang akan terjadi adalh penderiataan Islam seperti yang kita rasakan saat ini.

Bagian Kedelapan: menjelaskan tentang ruang dialog cross cultural. Pengalamanya saat berinteraksi dengan dunia kampus AS memberikan pelajaran bahwa potensi manusia untuk berdamai  harus diberi ruang dan dilatih secara istiqomah sebagaimana bulan ramadhan. Tidak hanya itu, dialog kemanusiaan itu sangat penting karena “kenyataanya adalah dunia Islam mendambakan kedamaian, sama seperti orang Barat memimpikanya. Kita orang Barat, harus belajar untuk mengatasi benturan budaya”[7]

 

BAB II: Islamic Studies dan Pesantren

Bagian Sembilan: bagian ini menjelaskan sejarah munculnya Islam pada. Nabi Muhammad melihat ada yang tidak beres dalam kehidupan orang-orang Arab saat itu, misalnya gap antara si kaya dan si miskin, yang kuat menindas yang lemah, dan lain sebagainyal. Adapun tentang tauhid, sebenarnya masyarakat Arab sudah mengenalnya sejak lama dengan “agama ibrahim”. Hal yang luar biasa adalah Nabi Muhammad berhasil menyatukan jazirah arab dalam waktu singkat hanya dalam waktu 23 tahun. Ini karena nabi muhammad mampu menyatukan nafas Islam dengan budaya Arab pada waktu itu.

Bagian Sepuluh : Latar belakang berdirinya madrasah Nizamiyah yang paling mendasar dalam literatur sejarah peradaban Islam adalah adanya perseteruan antara kelompok Sunni dinasti Saljuq dengan kelompok Syi’ah dinasti Fatimiah di mesir. Dinasti Saljuq berkeyakinan bahwa ideologi harus dilawan dengan ideologi. Karenanya institusi madrasah merupakan senjata atau alat dalam menamakan doktrin-doktrin sunni sebagai bentuk perlawanan paham Syi’ah. Kesimpulanya, Institusi pendidikan yang dirangsang oleh dialog keagamaan yang luas di kalangan masyarakat Sunni dan melibatkan patronase penguasa. Dengan kata lain, selain ekspresi agama dan budaya memang mendominasi kehidupan pendidikan dan sosial, ranah politik juga memberikan andil yang signifikan.

Bagian Sebelas :  akar dari pendidikan Islam dapat ditelusuri kembali ke awal lahirnya Islam itu sendiri. Our'an dan Hadits menjadi "kurikulum" yang paling penting dan menginspirasi. Selama empat abad pertama Islam, agama telah secara efektif mendorong dan mengilhami orang-orang belajar.

Bagian Dua Belas : Kiyai merupakan figur sentral di pesantren. Ia memimpin dan mengarahkan pesantren dengan kharismanya, konsistensinya dalam beribadah yang menjadi suri tauladan bagi santri. Seorang kiyai adalah guru spiritual bagi para santri. Bagi mereka, ia telah berhasil menemukan jalan kebenaran (shiratal mustagim). Beberapa kiai bahkan dipandang sebagai wali oleh masyarakat yang kadang dapat mengobati berbagai penyakit.

Bagian Tiga Belas: Bagian ini menjelaskan bahwa mengapa pesantren tetap berdiri kokoh dan unik bahkan semakin menguat. Karena: ada sosok kiai yang istiqomah atau konssiten, mampu menggabungkan budaya lokal masyarakat dengan nafas Islam, tidak hanya dakwah dengan kata-kata namun dengan hal (tindakan), dan pemahaman agama yang kuat.

Bagian Empat Belas:  pesantren mempersiapkan calon alumni dengan “Sufi Jawa | berorientasi-hidup”, cara hidup yang menekankan perdamaian dan harmoni dengan Allah (Pembimbing kehidupan spiritual dan material) dan masyarakat.

Bagian Lima Belas : Prof. Abdurrahman Mas’ud meyakini bahwa lahirnya sunni jauh sebelum abad ke 9  karena sudah ada praktik sunnisme dalam praktik keagamaan. Ia banyak berbeda pendapat dengan para sejarawan barat yang mengatakan sunnni berkembang pada abad ke IX.

Bagian Enam Belas : Etos kerja yang tinggi yang dibangun sejak kecil dan lingkungan mendukung, membuat santri kudus yang lebih maju dibanding santri di daerah lain. Ada sebuah ungkapan “GusJiGang” yang berarti bagus akhalaq, Pinter Ngaji dan Pintar Dagang. Spirit ini yang dibawa oleh para santri kudus.

Bagian Tujuh Belas : menjelaskan review buku “The Transmission of Knowledge in Medieval Cairo: A Social History of Islamic Education” karya Jonathan Berkey menjelaskan konsekuensi sosial dan budaya dari penghormatan Islam terhadap pengetahuan, menunjukkan bagaimana pendidikan di Abad Pertengahan memainkan peran sentral soal keagamaan. Berfokus pada Kairo, yang di bawah kekuasaan Mamluk (1250-1517) merupakan pusat intelektual luar biasa dengan sistem sosial yang kompleks, penulis buku ini menggambarkan transmisi pengetahuan agama sebagai proses individu, yang bergantung antara guru dan siswa.

 

BAB III: Dialog Islam dan Barat

Bagian Delapan Belas: dalam berbagai kesempatan ia terus menggelorakan pentingnya dialog Islam dan Barat dalam mengatasi masalah terorisme, termasuk ketika ia memegang jabatan Ketua MP3 Jawa Tengah, Wakil Ketua DRD (Dewan Riset Daerah) Jawa Tengah dan berbagai riset lainya.  

Ini penting disampaikan karena kata jihad itu sangat disalahpahami oleh dunia Barat baik dalam wacana politik, publik, maupun academic discourse. Tapi juga tidak sedikit umat Islam yang berpandangan bahwa jihad Identik dengan perang. Karena paham ini sering dilontarkan dari mimbar ke mimbar, ilmuwan, dan dunia Barat sering mengidentikkan jihad dengan kekerasan

Bagian Sembilan Belas : merupakan pidato pengukuhan guru besar Prof. Abdurrahman Mas’ud di IAIN Walisongo pada tahun 2004.  Judulnya sangat menarik yaitu “Membuka Lembaran Baru Dialog Islam-Barat”. Lembaran baru dialog Islam-Barat harus diwujudkan dengan landasan filosofis bahwa semua budaya setara dan masing-masing bisa mencapai tujuan bersama, serta bersama-sama mengikuti undang-undang universal berdasarkan akal sehat, hak untuk belajar, alam serta penggunaan hukum alam ini.

Melawan kekerasan bukanlah dengan kekerasan, karena kekerasan hanya akan menghasilkan kekerasan itu sendiri. Dunia Islam semestinya bisa bekerjasama dengan siapapun termasuk dengan dunia Barat dalam memerangi kesewenangwenangan, kekerasan, ketidak adilan, kemiskinan, serta segala bentuk ketertinggalan. Cara terbaik untuk memerangi radikalisme agama-agama adalah dengan membackup (mendukung) lembaga-lembaga demokrasi yang lebih mendahulukan kedamaian seperti kontreks Indonesia NU-Muhammadiyah.

Bagian Dua Puluh:  Arogansi AS yang dipertontonkan diatas planet ini, semakin mempersulit tugas-tugas kemanusiaan di masa depan. Hubungan Islam-Barat semakin buram akibat ulah negara adikuasa yang mencoba menyaingi kuasa Tuhan. Maka solusi atas injustice sistem global adalah dengan dialog konstruktif misalnya dengan menjembatani gap dunia Islam dengan Barat dan membandingkan pemikiran keduanya dengan objektif dan kritis.

Bagian Dua Puluh Satu : Islam Indonesia memiliki modal bagi “jembatan peradaban”. Hal ini terjadi karena moderatisme dan kemodernan Islam. Adapun caranyam Pertama, dialog antariman. Kedua, dialog budaya. Ketiga, dialog Islam dan modernitas. Pembentukan nasionalisme Islam dengan kasus keselarasan Islam Pancasila bisa menjadi model hubungan simbiosis-mutualisme antara Islam dan ideologi nasional.

Bagian Dua Puluh Dua :  Alam dan lingkungan bagi masysrakat Barat merupakan kelas terbuka untuk belajar. Dampak positif dari cara pandang ini adalah, alam dipandang sebagai themother nature, ibu pertiwi. Karena sistem pendidikan di Barat tidak memanjakan anak, maka mereka juga tidak merasa dimanjakan oleh alam. Maka pendidikan pendidikan berwawasan lingkungan sangat penting untuk kelangsungan alam yang sehat. Kalimat “innallah jamal, jamal” perlu diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Karena dalam konteks pendidikan Islam selama ini kurang bersentuhan dengan wawasan lingkungan hidup. Dan sesuggguhnya manusia itu adalah “kholifah fil ardh” yang bertugas menjaga kebersihan planet bumi ini.

Bagian Dua Puluh Tiga:  Bagian akhir ini ada pertanyaan menarik. “Apa yang membuat Indonesia itu ada dan terus ada di tengah kemajemukan itu? Salahsatunya adalah adanya kesepakatan atau titik temu tentang dasar-dasar negara dan kesadaran atau penerimaan akan negara yang multikultur ini. Hal ini dalam perkembangannya dikenal dalam Empat Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara, atau Empat Pilar Kebangsaan.”

 

Inilah yang Menarik

Keseimbangan Hidup

Setelah membaca buku “Mendakwahkan Smiling Islam: Dialog Kemanusiaan Islam dan Barat” semakin mematangkan pendapat saya bahwa Prof. Abdurrahman adalah duta Islam di mata barat. Ia mendakwahkan smiling Islam dalam karya-karya ilmiah yang sangat berbobot sehingga mencerahkan pembaca memahami pandangan segar Islam yang humanis.

Buku ini memberikan perspektif yang menyakinkan pembaca bahwa seseorang tidak sekedar mengejar dunia saja, namun kegiatan di dunia sebagai bekal di akhirat. Hal demikian seperti kisah Nabi Muhammad SAW saat menerima kedatangan rombongan tamu yang berasal dari pedalaman ke Madinah. Mereka bercerita tentang salah seorang ahli ibadah di daerahnya, salatnya rajin dan khusyuk, iktikafnya tak mengenal waktu, pun dengan zikirnya yang tiada henti. Masyarakat pun menilai kegiatan ritual yang dilakukan orang tersebut sebagai kegiatan paling mulia.

Hal utama yang ditanyakan Muhammad SAW ialah perihal kehidupan dunianya, bagaimana dengan kehidupan dan kecukupan nafkah bagi keluarganya. Mendengar pertanyaan tersebut, rombongan tersebut menjawab merekalah yang menanggung kecukupan hidup keluarga sang ahli ibadah. Dengan santun dan lembut, Muhammad SAW justru mengucap bahwa mereka (kelompok yang datang kepada Muhammad SAW)-lah yang lebih baik daripada pria yang gemar beribadah tanpa lelah. Rupanya Rasulullah SAW memiliki alasan atas ucapannya. Bagi beliau, apakah jika pria yang selalu beribadah tersebut terbebani oleh urusan dunia seperti anak dan istri, lantas masih tetap bisa tekun beribadah.

Sikap keseimbangan antara dunia dan akhirat tidak serta merta bisa tertanam pada diri seseorang tanpa dukungan lingkungan yang baik. Tempat tinggal lahir Prof. Abdurrahman di Desa Damaran sebagai salah satu Desa di Kudus terkenal dengan iklim agama dan dagang, terutama tekstil. Juga masih sangat kental dengan budaya Kudus yang hidup dengan apa adanya dan hormat kepada Kiai. Sehingga apabila dilihat dari sosiohistoris, iklim Kudus banyak mempengaruhi pola pikir dan sikap Abdurrahman yang memang sejak kecil sudah berkecimpung di dunia agama.

Dari sisi historis, Prof. Abdurrahman belajar agama dulu dan tidak tergiur dengan bisnis/kerja. Ini adalah sesuatu yang langka, karena orang tua yang memiliki profesi dagang biasanya anak-anaknya ada kecenderungan dagang juga. Tentu ketidaktertarikan ini karena didikan agama yang kuat dari keluarga sudah mengakar dalam diri Prof. Abdurrahman Mas’ud. Juga tidak lepas dari para kiai kondang saat itu seperti KH. Ma'ruf Asnawi, KH. Yahya Arif, KH. M. Sya'roni Ahmadi, KH. Ma'ruf Irsyad (paman Abdurrahman), K. Abdul Jalil dan lain-lain)

Faktor sosio-historis Abdurrahman tidak hanya mempengaruhi komitmennya pada agama, tetapi juga menjadikan Abdurrahman sebagai seorang pemikir yang dapat memahami wacana tradisionalitas dan modernitas. Tradisi pesantren yang dibentuk di lingkungan keluarganya, telah berhasil dibela secara akademis. Hal ini terbukti bahwa dalam disertasinya yang ditulis dengan bahasa Inggris yang berjudul: The Pesantren Architects and Their Socio Religious Teachings. Disamping faktor sosio-historis, pemikiran Abdurrahman juga dipengaruhi oleh faktor "sosio-politik", karena keterlibatannya dalam struktur organisasi seperti di PMII Cabang Ciputat Jakarta dan LAKPESDAM NU di Jakarta.

 

 

 

Konsisten Mendakwahkan Figur “smiling islam”

Menampilkan sisi agama yang santun di tengah kehidupan masyarakat sebagai perisai dan laku hidup keseharian itu bagai menghiasi diri dengan keindahan-keindahan secara lahir dan batin. Kefiguran yang ditampilkan dengan sikap tersebut membuat masyarakat terlena. Akhirnya, agama tidak dipandang ruwet tapi luwes dan luas. Agama sebagai sumber nilai dan norma bukan berarti selalu melarang setiap tradisi yang menyimpang dengan agama, tapi memperbaharui, meluruskan, membenarkan dengan cara-cara akulturasi yang baik.

Konsistensi membawa Islam ramah adalah sesuatu yang sulit untuk dilakukan. Karena manusia memiliki kecenderungan bosan pada sesuatu yang itu-itu saja. Namun Prof. Abdurrahman tidak bosan dengan mendakwahkan “smiling Islam”. Ini dapat dilihat dari berbagai karya-karyanya maupun berbagai pengabdian di berbagai organisasi dari tingkat sekolah, kampus, kota, provinsi, nasional bahkan internasional.

Dalam dunia pesantren, konsisten ini sering diucapkan sebagai istikomah. Para Ulama mengatakan "Al-Istiqomah khoirun min alfi karomah" yang artinya Istiqamah lebih baik daripada seribu karomah. Orang yang istiqamah adalah mereka yang konsisten dan terus-menerus melakukan ibadah dan ketaatan kepada Allah. Secara bahasa, istiqamah berarti tegak, lurus, taat asas, atau kuat dalam pendirian. Istiqamah terbagi tiga macam, yaitu istiqamah dengan lisan, istiqamah dengan hati, dan istiqamah dengan perbuatan.

Rasulullah SAW. telah bersabda “Sebaik baik amalan itu adalah amalan yang langgeng atau istiqomah, walaupun hanya sedikit”. Meskipun amalan yang kita lakukan sedikit, akan tetapi jika kita selalu istiqomah dalam mengerjakannya, Insya Allah hal itu akan menjadi barometer kemulian seorang hamba disisi Allah SWT.

Istiqomah juga berarti menahan hawa nafsu. Nafsu merupakan sebuah tabiat yang tertarik akan hal baru, nafsu juga cenderung mencari karomah bukan istiqomah. Seperti yang telah dikatakan oleh para Ulama’ yakni: “Jadilah kalian sebagai pencari istiqomah, jangan menjadi pencari karomah”.

 

Kesimpulanya, beliau adalah sosok yang istqqomah Mendakwahkan Islam Ramah: Istiqomah dakwah bil kitabah (fokus menulis tentang dunia pesantren dan humanisme), bil lisan (mengisi ngaji sejak muda sampai sekarang), dan  bil birokraatiyah (menggunakan jabatan sembari berdakwah).

 

 

 

 

 



[1] Halaman 8

[2] Halaman 13

[3] Halaman 24

[4] Halaman 24

[5] Halaman 29

[6] Halaman 37

[7] Wawancara Wartawati Muda Nicole Chvrette kepada Prof. Abdurrahman Mas’ud, hlm 79. 

 

Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama