Badai Pasti Berlalu, Nikmati Kesedihan dan Kesenangan

Suatu hari, seorang tokoh bijak datang menghadap seorang raja. Dalam pertemuan itu, sang raja meminta sebuah nasihat yang singkat, mudah diingat, tetapi memiliki makna yang dalam dan dapat dijadikan pegangan dalam segala keadaan.

 

Raja berkata bahwa ia tidak sanggup mendengarkan nasihat yang panjang. Ia hanya menginginkan satu kalimat yang dapat membimbingnya saat susah maupun senang. Ia berharap nasihat tersebut mampu menjadi pengingat sepanjang hidupnya.

 

Mendengar permintaan tersebut, sang tokoh bijak memberikan satu kalimat sederhana: "Ini akan berlalu." Meski singkat, kalimat itu mengandung hikmah yang sangat besar bagi kehidupan manusia. Kalimat tersebut mengajarkan bahwa tidak ada keadaan di dunia yang bersifat tetap.

 

Ketika seseorang sedang tertimpa musibah, kesedihan, atau kesulitan hidup, kalimat tersebut menjadi sumber harapan. Ia mengingatkan bahwa tidak ada kesulitan yang berlangsung selamanya dan setiap ujian pasti memiliki batas waktunya.

 

Allah Ta'ala berfirman, "Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan." (QS. Al-Insyirah: 5–6). Ayat ini mengajarkan bahwa di balik setiap kesulitan, Allah telah menyiapkan jalan keluar dan kemudahan bagi hamba-Nya.

 

Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang mungkin mengalami kegagalan usaha, kehilangan pekerjaan, atau berbagai masalah yang membuatnya merasa terpuruk. Pada saat seperti itu, keyakinan bahwa "ini akan berlalu" dapat menumbuhkan kesabaran, optimisme, dan semangat untuk terus berusaha.

 

Rasulullah ï·º bersabda, "Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Seluruh urusannya adalah baik baginya. Jika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur maka itu baik baginya. Jika ditimpa kesusahan, ia bersabar maka itu baik baginya." (HR. Muslim). Hadis ini menunjukkan bahwa seorang mukmin selalu memperoleh kebaikan dalam setiap keadaan.

 

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, "Dunia hanyalah tiga hari: kemarin yang telah berlalu dan tidak akan kembali, esok yang belum tentu engkau temui, dan hari ini yang sedang engkau jalani, maka beramallah di dalamnya." Nasihat ini mengingatkan bahwa kehidupan dunia sangat singkat dan terus bergerak menuju akhirnya.

 

Namun nasihat "ini akan berlalu" tidak hanya berguna saat seseorang berada dalam kesulitan. Kalimat yang sama juga penting ketika seseorang sedang berada di puncak kesuksesan, memiliki banyak harta, jabatan tinggi, atau berbagai kenikmatan dunia.

 

Manusia sering kali lupa bahwa kenikmatan dunia bersifat sementara. Masa muda akan berganti tua, kesehatan bisa berubah menjadi sakit, dan kekayaan bisa datang maupun pergi. Karena itu, seseorang tidak boleh terbuai oleh keadaan yang sedang dinikmatinya.

 

Imam Asy-Syafi'i rahimahullah berkata, "Hari-hari itu berputar di antara manusia; sehari untukmu dan sehari atasmu. Jika hari itu untukmu, jangan sombong. Jika hari itu atasmu, bersabarlah." Perkataan ini mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan sikap dalam menghadapi perubahan keadaan.

 

Allah berfirman, "Setiap yang bernyawa akan merasakan mati." (QS. Ali 'Imran: 185). Ayat ini mengingatkan bahwa segala sesuatu di dunia ini memiliki akhir dan tidak ada yang abadi selain Allah سبحانه وتعالى.

 

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah berkata, "Jika engkau bersabar, maka takdir akan tetap berjalan. Namun engkau akan mendapatkan pahala. Jika engkau tidak bersabar, takdir tetap berjalan, tetapi engkau memikul dosa." Perkataan ini menunjukkan bahwa kesabaran merupakan pilihan terbaik dalam menghadapi setiap ketentuan Allah.

 

Umar bin Al-Khattab radhiyallahu 'anhu pernah berkata, "Seandainya kesabaran dan syukur itu dua ekor unta, aku tidak peduli yang mana yang aku tunggangi." Maksudnya, baik kesabaran maupun syukur merupakan jalan yang sama mulianya dalam mendekatkan diri kepada Allah.

 

Oleh karena itu, kalimat "Ini akan berlalu" mengajarkan dua pelajaran penting sekaligus: bersabar ketika menghadapi kesulitan dan tetap rendah hati ketika memperoleh kesuksesan. Seorang mukmin hendaknya tidak berlebihan dalam kesedihan dan tidak pula berlebihan dalam kegembiraan, karena ia menyadari bahwa semua keadaan di dunia hanyalah sementara, sedangkan kehidupan akhiratlah yang kekal selamanya. Dengan pemahaman ini, seorang hamba akan memiliki hati yang tenang, kokoh dalam menghadapi ujian, serta senantiasa bersyukur atas setiap nikmat yang Allah karuniakan.

 

Ini refleksi penghibur diri saya sendiri setelah bisnis "jatuh" diterjang covid. Semoga bermanfaat...

Semarang, 11 April 2022 

 


 


Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama